Sekitar pukul
12.35. Saya “Ratu Radega,” berjalan cepat menuju ruangan D1.211 yang terletak
di lantai dua sebelah selatan. Dengan tujuan mengikuti perkuliahan Tekhnik
Khitobah 2.
Ketika saya mulai
membuka pintu ruangan yang jaraknya sekitar 3 M dari tangga, salampun tak lupa
saya ucapkan dengan nada pelan, “Assalamu’alaikum.” Terkagetlah, saat melihat
teman saya bersujud didepan bangku yang tidak jauh dari pintu. “owalah palingan
ini lagi praktek terapi sholat bahagia.” Ungkapku dalam hati.
Namun apa yang
terjadi?, ternyata itu adalah hukuman dari Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag bagi
mahasiswanya yang terlambat masuk kelas. “ayo yang terlambat sujud syukur dulu,
baca tasbih 100 kali, ambil posisi yang enak terserah didepan atau dibelakang.”
begitulah celetuk mantan dekan fakultas dakwah itu dengan wajah yang kesal.
Segeralah saya
bergegas meletakkan tas dan mengambil posisi dibawah bangku paling belakang
untuk bersujud. Penyesalan dan rasa bersalahpun muncul di hati saya karena
sudah mengecewakan dosen favorit saya.
Pembacaan tasbihpun
sudah sampai 100 bacaan, tidak tahu kenapa tiba-tiba hati saya merasa ragu dan takut
kurang. “wah kalau ini sampai kurang saya bisa berdosa.” Itulah suara hati
saya. Maka saya menambahkan 10 bacaan lagi sebagai pengganti keraguan itu.
Sampailah pada bacaan tasbih yang terakhir, disitulah hati saya merasa lebih
tenang dan nyaman.
Selesai melakukan
sujud syukur saya berdiri dan beranjak kearah tempat duduk paling depan sebelah
selatan. “Untung saya tidak marah, saya suruh kalian untuk sujud syukur.” Tutur
pengarang buku TSB dengan penuh wibawa.
Tak lama kemudian
guru besar UINSA itu memanggil Azka dan meminta lembaran foto copy. Lalu beliau
membagikan 1 lembar kertas Pedoman Penulisan Peristiwa kepada mahasiswanya,
satu kertas untuk dua orang, berhubung saya duduk sendiri, saya mengajak
sahabat saya Nitra Galih duduk didepan bersama saya.
Dosen kelas
Retorika itu menjelaskan cara menulis yang baik dengan menunjuk satu persatu
dari kita “Mahasiswa.” Agar membacakan tulisan di kertas putih yang menjelaskan
tentang terampil menulis. “Sekarang siapkan kertas dan tulis pengalamanmu yang
terjadi sekarang.” Cakap sosok pendidik yang intelek.
Seiring dengan
berjalannya waktu saya dan teman-temanpun menulis sesuai perintah beliau,
disinilah saya mengasah otak hingga akhirnya menemukan inspirasi dan banyak
kosa kata yang saya inginkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Maka selesailah
perkuliahan hari ini yang diakhiri dengan lantunan surat al-‘Asyr dan do’a
kafaratul majlis bersama.
Selasa, 31 Maret 2015
Bagus. Lanjut Nulis Sahabat!!!!!!!!!
BalasHapusInsyaallah. bantu do'a ya moga diberi kelancaran oleh Allah.. Amiiinnn
Hapustulian yang bagus. semoga bisa memotivasi yang lain untuk menulis
BalasHapusAmin... makasih ukhty..
Hapustulian yang bagus. semoga bisa memotivasi yang lain untuk menulis
BalasHapushukuman yng sangat bijak sekali teman
BalasHapusiya ustadzah barun pertama kali ini saya mendapat hukuman yang sangat menyenangkan :)
Hapuswahhh ternyata kamu py bakat jadi penulis tul, pantesan laptop keyboardnya rusak semua, apa karena sering buat ngetik yahh hihii, tp yg jelas tulisan nya oke tul ceritanya ringan
BalasHapushaha iyya berkat prof ku yang bijaksana
Hapusbaru kali ini ada hukuman seperti itu
BalasHapusluarbiasa sekali, hukuman membawa berkah
Hapushukuman yang sangat luar biasa, Subhanallah
BalasHapuswah kayaknya seru tuh hukuman, jadi pngen kuliah dstu juga hehe
BalasHapusdosen yang bijaksana, subhanallah
BalasHapushukuman yang pantas
BalasHapusbuat pealajaran agar menjadi insan yang di siplin waktu .,
BalasHapusProf Ali itu, dosen yang jarang marah. Kita bersyukur memilki dosen seperti itu kawan. hehehe
BalasHapusya gak papa , kan hukumannya rame-rame...
BalasHapushukuman membawa berkah :)
BalasHapusayow goyangkan trus batuknya sampai ngapal hitam mbak ratu.....heheh
BalasHapus