Selasa, 28 April 2015 ku berjalan bersama kedua temanku, Mahabbah dan Diana. Dari masjid menuju ruang D1.211 untuk mengikuti perkuliahan Tehnik Khitobah2. Di dalam perjalanan itu saya berkata pada Diana “Din kalau kuliahnya pak Prof jangankan hanya diguyur hujan seperti ini, meskipun ada Badaipun aku terjang” gadis manis itu ngakak mendengar celetukku sambil menanggapi, “ hahhaaa.. iya Bing meskipun ada Sunami aku lewati bing”. Ungkap wanita bersuara merdu itu.
Ketika
sampai di depan kelas, saya melihat pintu ruangan tertutup “haduuh ternyata
sudah masuk, jangan-jangan kita di suruh sujud syukur lagi” ungkapku pada kedua
temanku yang berada di belakangku. Akupun membuka pintu ruangan dan tak lupa
saya mengucap salam “Assalamu’alaikum Wr.Wb”.
Alhamdulillah
ternyata saya tidak di hukum dan prof Ali tidak marah “gumamku dalam hati” saya
langsung mengambil posisi duduk di barisan paling depan tepatnya di sebelah
kanan sahabat saya Nitra. Sebelum saya duduk di sampingnya, saya kaget
melihatnya dan bertanya, lohhh… kamu kok masuk kuliah katanya sakit? Gadis cantik
berkulit putihpun menjawab “iya, ma udah mendingan ucapnya dengan wajah yang
sangat pucat dan tampak kesakitan.
Aku
melihat ke arah kiri depan, disitu ada dua orang laki-laki yang sedang duduk
berhadapan di atas kursi sambil bercakap-cakap dan memencet Hpnya, lalu muncul
pertanyaan dalam benakku “ngapain ya.. mas Farid sama pak prof kok kayaknya
srius banget,? Ternyata laki-laki berkemeja putih dengan garis-garis hitam itu
ingin menelpon orang tua dari mahasiswa yang berada pas didepanya. Awalnya dosen
yang bijaksana itu menghubungi ayah dari laki-laki berjaket hitam, namun karena
ayahnya tidak bisa di telpon akhirnya langsung menghubungi orang tua
perempuannya, ternyata ibunya bisa di hubungi dan saat itu juga di ceritakan
tentang apa yang terjadi pada putranya (Farid) ketika mengikuti perkuliahan
yang beliau ampuh.
Saya
sedikit mendengar percakapan antara keduanya (prof ali dan ibu farid) bahwa
mahasiswa berkacamata itu sudah 3 semester tidak lulus matakuliahnya dan dengan
rendah hati dosen berkcamata itu meminta tolong kepadanya supaya memberikan
dorongan kepada anaknya agar semangat kuliah, karena sudah banyak ketinggalan
tugas-tugas yang sudah diberikan pada minguu-minggu sebelumnya. Mendengar semua
itu pastilah hati seorang ibu sedih dan kecewa. Mahasiswa dengan tubuhnya yang
lumayan tinggi itu sambil mendegarkan peribincangan keduanya dengan meletakkan
kepalanya di atas meja dosen.
Mahasiswa
itu adalah kakak angkatku, dari semester 5 aku sering satu kelas sama dia, tapi
menurut sepengetahuanku selama satu kelas kakak itu memang jarang masuk kuliah
entah kenapa sampai seperti itu, bahkan meskipun ia sudah tidak lulus 3
semester di perkuliahan prof Ali, ia masih tetap saja mengulangi perbuatannnya
dengan tidak masuk kuliah sehingga ia mendapat Alpha 3 kali. Namun karena
kemuliaan hati seorang guru besar UINSA itu mengampuni masalah yang 3 kali
absen, tetapi tetap saja harus mengerjakan semua tugas-tugas yang sudah
diberikan dipertemuhan sebelumnya.
Tiba-tiba
terputuslah perbincangan pengarang buku Terapi Sholat Bahagia dengan ibu dari
salah satu mahasiswa retorika itu, karena pulsanya habis sehingga tidak mencukupi
untuk menelponnya kembali. Begitulah pengantar dari mantan Dekan Fakultas
Dakwah sebelum memasuki materi perkuliahan.
***
Ketika
aku melihat ke arah dimana Prof. Dr.
Moh. Ali Aziz, M.Ag duduk. Ku melirik 3 buku yang terletak di atas meja, tapi
dari salah satu buku itu saya tidak melihat apa judul dari buku itu, namun saya
hanya melihat buku berwarna hijau yang berjudul Doa-Doa keluarga bahagia,
karena memang buku itu terletak di paling atas dari 3 tumpukan buku tersebut. Saat
melihat buku bergambar laki-laki berkacamata itu dengan berbaju putih dan
berkopyah putih saya langsung teringat ketikak saya dan beberapa teman saya
menjenguk pengarang buku itu karena sakit akibat kecelakaan saat di jemput oleh
salah satu mahasiswanya dengan mengendarai sepeda motor.
Meskipun
beliau sakit yang menurut saya itu sakit yang cukup parah, di bagian wajahnya
yang rupawan itu terlihat bengkak berwarna hitam, tetapi beliau masih tetap
saja semangat memotivasi para mahasiswanya agar bisa menjadi orang-orang yang
selalu bersyukur dan tidak mengeluh dengan apa yang terjadi karena apa yang
terjadi sudah di tulis sebelum kita terlahir ke dunia. Sebagaimana firman Allah
dalam QS. Al-Haddid [57]: 22
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di
bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab
(Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu
adalah mudah bagi Allah. (QS. Al-Haddid [57]: 22).
Ketika
mau pulang dari rumahnya, beliau memberikan buku Doa-Doa Keluarga Bahagia
kepada beberapa mahasiswanya yang sudah bersilaturrahim kepada beliau termasuk
saya juga mendapat buku itu. Saat itu perasaanku sangat senang, dan saya rasa
teman-teman juga merasakan apa yang saya rasakan saat itu meskipun dari
perjalanan berangkat menuju rumah beliau hingga pulang di guyur hujan.
Di
bawah buku berwarna hijau itu saya juga melihat sekilas buku dengan judul 60
Menit Terapi Shalat Bahagia yang bewarna putih abu-abu. Saat melihat kedua buku
tersebut “kenapa ya.. prof Ali kok bawa buku TSB dan Doa-Doa Keluarga Bahagia,
jangan-jangan suruh praktek terapi sholat bahagia sambil baca doa-doa, waahh…
enak ini biar gak sedih mikirin masalah terus,,, pikirku dalam benakku.
Tiba-tiba
dosen dengan rambutnya yang sudah mulai memutih itu bertanya pada salah satu
mahasiswa yang duduknya di belakang kira-kira jaraknya 7 meter dari tempat
duduk dosen itu, “Zen kamu lihat apa judul buku ini? Saat itu aku hanya mendengar
suara zen menjawab pertanyaan prof Ali bahwa laki-laki yang duduk di baris ke 3
dari dari tempat duduk saya itu tidak melihat apa judul buku tersebut, karena
memang jaraknya cukup jauh dari tempat duduk zen.
Lalu
pengarang buku Ilmu Pidato itu lanjut bertanya pada Nitra yang duduk di samping
kanan saya pas, Nit kamu bisa lihat apa judul buku ini, apa judul buku ini? Terima
Kasih jawab gadis cantik yang ada di sampingku. Saat itu saya juga berusaha
melihat judul buku itu tetapi karena jaraknya cukup jauh jadi tulisan Terima
Kasih sebagai judul buku tersebut tidak bisa terlihat secara jelas di mataku.
Terima
Kasih adalah judul buku yang ada di depan pengarang buku Ilmu Dakwah itu, lalu
Laki-laki kelahiran Lamongan mengambil buku tersebut dari meja yang ada di
depannya, beliau memengangnya dengan di tangan kirinya, sambil lalu membuka
bukunya dan membacakan pengarang buku tersebut serta menuliskan di papan tulis
warna putih dengan Boardmarker warna hitam. Bahwa pengarang buku tersebut
adalah JOHN KRALIK. Lalu melanjutkan membaca yang disertai menulis “365 Thank
Yous The Year The Simple Act of Daily Gratitude Changed My Life” itulah yang
beliau tulis di papan tulis dari buku yang berjudul Terima Kasih.
Ini
adalah cerita tentang bagaimana JONH KRALIK sukes karena setiap hari menulis
ucapan Terima Kasih. Lalu Fajriyah di
suruh membacakan Judul buku yang sudah di tulis prof Ali di papan tulis dalam
bentuk bahasa inggris, dan perempuan manis yang berada tepat di belakangku itu
membacakannya dengan suara serak-serka malu.
Alumni
Pesantren Ihyaul Ulum Gresik itu mengulang membacakan tulisan itu sambil
berjalan kedepan dengan senyumnya yang menawan, berhubung tulisan tersebut
bahasa Inggris maka beliau mengartikan ke Bahasa Indonesia agar bisa di pahami,
apa lagi saya yang belum mahir bahasa inggris. Namun tetap saja yang lupa akan
arti dari tulisan itu karena saya ketinggalan untuk mencatatnya, mungkin karena
saya kurang focus sehingga saya sering ketinggalan tentang apa yang di
sampaikan dosen/ teman-teman.
Tak
lama kemudian tiba-tiba ada 5 mahasiswa membuka pintu rungan dan mengucap salam
dengan bersamaan. “Assalamu’alaikum” akupun menjawab wa’alaikum salam. Aku juga
melihat satu dari kelima mahasiswa yang terlambat itu ada yang mengenakan
sandal, lalu saya berkata pada laki-laki ganteng itu“mas jangan pakek sandal
gak boleh, sana cari pinjeman dulu, cowok keren itupun menjawab sambil
tersenyum manis “iya, aku bawa sepatu kok di dalam tasku.
Dari
ke 5 mahasiswa ynag terlambat masuk kelas itu, Prof dengan kebijaksanaannya
memberikan hukuman kepada mereka, dan hukuman yang beliau berikan adalah rukuk
dengan membaca tabih (Subhanallah) 150 kali kemudian di tambah sujud juga
dengan membaca tasbih 150 kali jadi jumlahnya ada 300 bacaan tasbih. Mereka
berlima mengambil posisi di pojok depan tepatnya sebelah kanan meja dosen.
Sampailah
pada cerita bahwa ada seorang pasien yang mengirim surat kepada dokter yang
udah merawatnya sekian tahun yang lalu, pasien tersebut menyatakan dalam
suratnya “andaikan tidak engkau tangani penyakit saya, maka saya tidak akan
bisa menulis surat ini. Terima Kasih” menerima surat tersebut dokternya merasa
senang sekali, karena rasa senang yang di rasakannya ternyata dokter itu
mebalas surat tersebut lebih panjang dari surat yang dari pasiennya tadi. “Dokter
berkata: ini adalah pasien yang pertama kali sepanjang karier saya yang
memberikan apresiasi seperti ini (sepanjang hidup saya).
Prof
Ali bertanya kira-kira dokter itu senang gak menerima surat itu, para
mahasiswapun menjawab “iya senag”. jadi hanya dengan ucapan terima kasih sudah
membuat hati orang senang. Lalu beliau berkata “Saya berperinsip Senyum Manusia adalah Senyum Tuhan.” Jadi
intinya jika kita mampu membuat orang lain tersenyum berarti kita sudah membuat
Tuhan tersenyum kepada kita. Subhanallah.
Tiba-tiba
Penceramah Internasional itu, bernyata pada Nitra kenapa kesakitan tah nit?
Iya, jawab ninit dengan wajah memerah dan kesakitan.
Prof Ali: Sakit
apa?
Nitra: sakit
lambung
Prof Ali: Owww…
udah periksa ke dokter?
Nitra: sudah
Prof Ali: di
kasih obat apa sama dokter
Nitra: Obat Magh
Prof Ali:
Milanta? Apa obat Magh ya..
Nitra: iya
Penyakit
lambung itu, penyakit kebanyakan orang. Tapi penyakit lambung tidak bisa
disembuhkan seumur hidup, yang bisa hanya nyegah. Dan penyakit lambung itu
sangaaaatttt… erat dengan ketegangan. Saya tadi kan periksa gigi, tadi saya
bilang Fathur, saya agak terlambat nanti karena saya sakit gigi, inilah
pernyataan Prof Ali, tiba-tiba Trisno menyeletuk dari belakang “tapi kok gak
terlambat?” celetukan bocah yang bertubuh besar itu membuat satu kelas retorika
tertawa serentak.
Dokter
yang menangani beliau adalah dokter profesional ia dokter katolik, lalu ketika
pertama kali di cabut dan darahnya keluar,
dokter itu bilang: bapak stress, lo kok bapak tahu? Iya, darah kalau
orang stress itu rata-rata darahnya begini kental. Kebetulan dokter itu dalam
menangani pasien itu sudah puluhan tahun lebih jadi tahu mana darahnya orang
yang stress atau bukan.
Dosen
teladan nasional ini, ternyata takut terhadap jarum suntik, ungkapnya ketika
bercerita di depan mahasiswa retorika “suntik aja takut, apalagi dicabut”.
Sambil mengekspresikan suaranya Kreekkk… Kreekk. Ketika gigi ayah dari tujuh
anaknya beliau berkata: Ya Allah…gpp gigi saya di cabut asalkan pada saat saya
memejamkan mata Engkau datangkan Rasul Mu untuk memandang wajahku. Jadi ketika
itu beliau sudah pasrahkan kepada Allah.
Lalu
darah itu keluar lagi dan dokternya mengatakan, nah kalau ini bukan darah
stress, lalu dosen kelahiran tahun 57 itu menyimpulkan “Sedikit saja kesedihan itu akan mempengaruhi darah kita, jadi tidak ada
satu kesedihan yang tidak berpengaruh pada tubuh kita”
Bagaimana
dengan orang yang sedih sampai bertahun-tahun? Jadi bagaimana kira-kira bentuk
darahnya orang-orang yang sedihnya sampai bertahun-tahun? Tanya dosen Favorit
ku pada mahasiswa retorik sambil tertawa. Bencinya kepada orang-orang itu
bertahun-tahun bagaiman saya tidak bisa membayangkan.?
Prof
Ali, kembali bertanya pada Ulfian, dokternya tadi itu senang apa gak?
Jawabnya, iya senang. tadi yang saya
tulis “Senyum Manusia adalah senyum Tuhan” pernyataanya setelah bertanya pada
salah satu mahasis berkulit putih itu. Lalu beliau bertanya lagi pada
mahasiswanya “ketika dokter tadi itu tersenyum siapa yang tersenyum pertama
kali?” jawabnya: Allah. Tanya lagi, Senyum kenapa? Karena ada orang yang
menghargai jasa orang, pertanyaan sekaligus pernyataan. Jadi kita menyenangkan
orang lain maka Allah pun juga akan menyenangkan kita. Subhanallah. Lalu Allah
SWT berkata pada malaikat: Malaikat bukalah pintu-pintu (chanel-chanel) rizki
yang masih tertutup itu, Karen ada satu orang yang menyenangkan orang lain.
Subhanallah
Sebentar
lagi kalian saya suruh menulis, tulis dimana aja, gak bawa laptop? Jangan
menyerah, masak gara-gara tidak ada laptop kalian berhenti berkarya. Ungkap
pengarang buku Tekhnik Khutbah Jum’at Komunikatif.
Ketika
dia gerak jalan, lomba lari (jalan sehat), pernah ikut lomba lari dian? Tanya
prof pada Diana. Tidak prof tapi jalan sehat, jawabnya. Kenapa kamu gak ikut
lomba lari? Tanya prof kembali. Lalu Dianapun menjawabnya, kegemukan prof.
kemudian mahasiswa retorika tertawa meledak mendengar peryataan dari Diana,
prof Ali pun juga ikut tertawa. Meskipun yang lain sudah berhennti tertawa
tetapi Diana yang mengaku bertubuh gemuk itu masih saja melanjutkan tertawanya
sendiri.
Lalu
di dalam lomba lari ini, ada teman lomab lari dari pengarang buku terima kasih
(John Kralik) itu menunjukkan gubernur, kamu tahu gak gubernur? Itu lo
gubernur. sambil menunjukkan tangannya ke depan seakan-akan ada gubernur di
depannya. Ayo sekarang kita mendekat ya. Akhirnya ia tahu gubernur itu. Maka ia
(John Kralik) itu menulis pada teman yang sudah menunjukkan gubernur tadi.
Betapa sepelenya, dia menulis surat “Pertama, terima kasih kamu itu orang
penting kok mau lari sama saya, yang kedua terima kasih andaikan aku tidak
engkau tunjukkan gubernur itu, mungkin selamanya saya tidak tahu kalau dia
gubernur, terima kasih. Sungguh luar biasa sesederhana itupun dia berterima
kasih.
Sudah
sekian lamanya perkuliahan di mulai, ternyata masih ada satu mahasiswa yang
biasa di panggil gundul oleh teman-temannya itu baru datang, dosen yang berhati
mulia itu, tidak marah atau menyuruh gundul itu keluar, tetapi beliau hanya
memberikan hukum sujud syukur dengan membaca tasbih 150 kali. Subhanallah mulia
sekali hati dari Guru Besar UINSA itu.
Di
jelaskannya tentang Gratitude oleh dosen berkacamata itu sambil menggaris-garis
dibawah tulisan itu dengan jari telunjuknya. Gratitude itu adalah bentuk terima
kasih. Sifat nya Allah gratitude suka berterima kasih dan menghargai, yaitu Syakur beliau menulis kata
Syakur dengan tulisan arab da boardmarker warna biru tanpa di beri syakal
(harokat). Syakur itu artinya Allah itu sang paling menghargai.
Lalu
dosen Tekhnik Khitobah 2 ini bertanya pada salah satu mahasiswa yang humoris,
Tris kamu sekarang umur berapa? 15 pak. Wahahaaa… orang-orang seisi ruangan itu
tertawa serentak mendengar ungkapan Trisno umur 15 tahun. Lalu menjawab lagi
17, eh 20 pak. Anehhh tohh ada orang lupa usianya sendiri ucap prof Ali lucu sehingga
ruang kelas semakin ramai.
Misal,
masa kecil Trisno 15 tahun, berarti trisno sudah bisa mnulis 15 tahun. Mestinya
kamu harus menulis 365 x 15. Kemudian Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Jatim
itu, menyuruhku menghitung 365 X 15. Ohh saya bingung karena saya tidak pandai
menghitung. Tapi beliau menunjuk HP yang ada di atas kursi sebelah kiri saya.
sambil berkata ini ada HP kan? Sayapun langsung mengambil HP itu dan menghitungnya
ternyata hailnya 5475. Jangan-jangan gak tau kalau di HP nya ada kalkulatornya..!!!
guyon Proffesor itu menimbul gelak tawa.
Saya
yakin Tris, jika kamu sudah menulis surat 5475 terima kasih kepada orang lain,
maka hidupmu lebih sukses dari pada hari ini. Berarti kamu sudah membuat 5475
tersenyum insyaallah itu udah cukup untuk membuka pintu-pintu rahmatmu. Ucap
seorang Trainer itu memotivasi mahasiswanya supaya dapat munulis seperti Jonh
Kralik. Sekarang saya Tanya Tris, siapa orang ynag pernah kamu kirim surat
dengan ucapan terima kasih? Awalnya Trisno bingung tapi akhirnya ia menjawab
ayah dan ibu. Ini adalah salah satu bagian dari cara hidup saya.
Selain
Trisno yang ditanya oleh beliau, Azka pun juga di tanya tentang siapa saja yang
pernah di ucapkan Terima Kasih. Azka menjawab, Prof Ali, orang tua, ketika
membaca biografinya dan setiap menulis selalu dibaca orang tuanya dan ketika di
nasehati juga mengucap terima kasih. Mendengar ungkapan Azka aku merasa iri
karena saya tidak pernah merasakan seperti itu, apa lagi ketika stiap
tulisannya dibaca oleh orang tuanya.
Lalu
pak Ali menyuruh Hakim untuk menuliskan di papan tulis Lainsyakartumm La
Azidannakum dengan tulisan bahasa Arab, namun Hakim tidak langsung menulis di
dapapan tulis karena masih mencari ayat tersebut dalam al-Qur’an yang ada di
Hp-nya. Kurang lebih mecapai 2 menit ia masih aja belum menuli ayat itu.
Akhirnya Dosen yang bijak itu menyuruh supaya tidak jadi menulis.
Kata
Prof berwajah rupawan itu, belum ada orang yangg menafsirkan Lainsyakartum La
Azidannakum sedetail itu “If You Always Gratitude”. Dosen teladan itu tiba-tiba
menyuruh semuanya untuk berhenti menulis karena tidak sengaja melihat salah atu
mahasiswanya mengipat-ngipatkan tangannya dengan menunjukkan kelelahan mencatat,
lalu beliau betanya pada Nafis, kenapa sudah capek tah fis? Nafis menjawab, iya
pak capek jawab Nafis sambil tertawa. Yadah sekarang berhenti dulu kalau capek,
ucap dosen bersepatu hitam itu dengan lembut.
Sambil
menunggu Diana sama Ulfian izin ke toilet, Prof Ali sambil bertanya pada
Fajriyah tentang sudah mendapat berapa halaman yang menulis. Saya juga sambil
melanjutkan tulisanku, ulfian dan Diana pu datang memasuki ruang kelas lalu
dosen yang pandai memotivai itu melanjutkan keterangannya yakni jika bersyukur
ingatlah jasa orang yang sekecil apapun dan lupakan kesalahan orang sebesar
apapun “sambil menunjuk-nunjuk tangannya ke depan”. Lalu meletakkan kedua
tangnnya di saku celana ynag sebelah pinggir.
Dalam
sholat ada bacaan al-Fatihah atau Alhamdulillah, tujuh ayat yang di ulang-ulang
di dalam Al-Qur’an Assab’ul Matani, kemudian prof Ali menyuruh salah satu
mahasiswanya ynag bernama Irfan Ilhami untuk membacakan surat al-Fatihah
dimulai dari basmalah, lalu laki-laki berkulit putih itupun membaca ayat
tersebut sambil menghitung jumlah ayat yang dibacanya. Laki-laki itu mengulang
membacanya sampai dua kali bacaan.
Surat
al-Fatihah di baca ketika sholat maka harus 7 ayat jika tidak tujuh ayat maka
sholatnya tidak sah, jadi jika tujuh ayat maka harus membaca dari basmalah, lalu
bagaimana dengan yang membacanya tanpa basmalah? Berarti ketika sampai ayat
Ghairil Maghdubi ‘alaihim itu di pisah.
Kata
Alhamdulillah di letakkan diawal supaya menjadi manusia yang berkepribadian Hamdalah, Istri paling
bahagia yang punya suami memilki kepribadian Hamdalah. Dan orang ynag paling
pelit ialah orang yang pelit penghargaan, maksudnya tidak pernah memberikan
penghargaan atau apresiasai kepada orang lain.
Saya
lulusan pesantren ketika itu ijazah aya tidal laku, lalu saya diminta untuk
mengajar di SMA katolik waktu itu saya hanya di bayar 30 ribu perbulan kalau
gak salah, saya belum mendapat pekerjaan dan saya juga belum pegawai negeri,
lalu saya menikah, pertama kali yang mengucapkan selamat atas pernikahan saya
adalah orang katolikk itu, yang kedua ketika istri saya hamil dia
(katolik)betul-betul menjabat tangan saya sambil mengucapkan selamat ya pak,
selamat ya.. sangat luar biasa bapak dan ibu. Sampai sekarang saya tidak akan
pernah lupa wajah orang itu, saya tidak akan lupa dengan orang itu, walaupun
dia beda agama dengan saya. setelah itu saya mendengar “saya baru nikah pak
satu bulan yang lalu” langsung saya tanda tangani dan saya ucapakan selamat. Paparan
ini merupakan pernyataan dari Prof. Dr. Moh Ali Aziz, M.Ag
Kini
telah sampailah pada waktu dimana berakhirnya perkuliahan hari ini, ketika
teman-teman pada keluar dari ruang kelas saya masih berada di dalam ruangan
tersebut bersama Fajriyah dan Baity saat itu saya lagi membereskan
barang-barang saya di dalam tas, lalu saya lari mengejar Ninit dan Mahabbah,
aku melihat mereka sudah berada di lantai satu akhirnya saya menambah kecepatan
berjalan saya, haha akhirnya saya bisa mengejar mereka berdua.
Aku
dan Nitra berbeda tujuan dengan Mahabbah, akhirnya kita berpisah aku dan Nitra
berlajan terus menuju gang dosen, berhubung saya lagi mengirim file dari Hp nya
ninit ke Hp ku belum seleai akhirnya ninit mengajakku k eke Indomaret agar
waktu dalam menntransfer file tersebut lebih lama, aku dan Nitrapun berlajan
terus menuju Indomaret. Sepulang dari Indomaret hujan turun membasahi tubuhku
dan Nitra, lalu saya berhenti di Warung Ijo untuk berteduh sambil makan.





