Rabu, 29 April 2015

Semangat KU





Selasa, 28 April 2015 ku berjalan  bersama kedua temanku, Mahabbah dan Diana. Dari masjid menuju ruang D1.211 untuk mengikuti perkuliahan Tehnik Khitobah2. Di dalam perjalanan itu saya berkata pada Diana “Din kalau kuliahnya pak Prof jangankan hanya diguyur hujan seperti ini, meskipun ada Badaipun aku terjang” gadis manis itu ngakak mendengar celetukku sambil menanggapi, “ hahhaaa.. iya Bing meskipun ada Sunami aku lewati bing”. Ungkap wanita bersuara merdu itu.
Ketika sampai di depan kelas, saya melihat pintu ruangan tertutup “haduuh ternyata sudah masuk, jangan-jangan kita di suruh sujud syukur lagi” ungkapku pada kedua temanku yang berada di belakangku. Akupun membuka pintu ruangan dan tak lupa saya mengucap salam “Assalamu’alaikum Wr.Wb”.
Alhamdulillah ternyata saya tidak di hukum dan prof Ali tidak marah “gumamku dalam hati” saya langsung mengambil posisi duduk di barisan paling depan tepatnya di sebelah kanan sahabat saya Nitra. Sebelum saya duduk di sampingnya, saya kaget melihatnya dan bertanya, lohhh… kamu kok masuk kuliah katanya sakit? Gadis cantik berkulit putihpun menjawab “iya, ma udah mendingan ucapnya dengan wajah yang sangat pucat dan tampak kesakitan.
Aku melihat ke arah kiri depan, disitu ada dua orang laki-laki yang sedang duduk berhadapan di atas kursi sambil bercakap-cakap dan memencet Hpnya, lalu muncul pertanyaan dalam benakku “ngapain ya.. mas Farid sama pak prof kok kayaknya srius banget,? Ternyata laki-laki berkemeja putih dengan garis-garis hitam itu ingin menelpon orang tua dari mahasiswa yang berada pas didepanya. Awalnya dosen yang bijaksana itu menghubungi ayah dari laki-laki berjaket hitam, namun karena ayahnya tidak bisa di telpon akhirnya langsung menghubungi orang tua perempuannya, ternyata ibunya bisa di hubungi dan saat itu juga di ceritakan tentang apa yang terjadi pada putranya (Farid) ketika mengikuti perkuliahan yang beliau ampuh.
Saya sedikit mendengar percakapan antara keduanya (prof ali dan ibu farid) bahwa mahasiswa berkacamata itu sudah 3 semester tidak lulus matakuliahnya dan dengan rendah hati dosen berkcamata itu meminta tolong kepadanya supaya memberikan dorongan kepada anaknya agar semangat kuliah, karena sudah banyak ketinggalan tugas-tugas yang sudah diberikan pada minguu-minggu sebelumnya. Mendengar semua itu pastilah hati seorang ibu sedih dan kecewa. Mahasiswa dengan tubuhnya yang lumayan tinggi itu sambil mendegarkan peribincangan keduanya dengan meletakkan kepalanya di atas meja dosen.
Mahasiswa itu adalah kakak angkatku, dari semester 5 aku sering satu kelas sama dia, tapi menurut sepengetahuanku selama satu kelas kakak itu memang jarang masuk kuliah entah kenapa sampai seperti itu, bahkan meskipun ia sudah tidak lulus 3 semester di perkuliahan prof Ali, ia masih tetap saja mengulangi perbuatannnya dengan tidak masuk kuliah sehingga ia mendapat Alpha 3 kali. Namun karena kemuliaan hati seorang guru besar UINSA itu mengampuni masalah yang 3 kali absen, tetapi tetap saja harus mengerjakan semua tugas-tugas yang sudah diberikan dipertemuhan sebelumnya.
Tiba-tiba terputuslah perbincangan pengarang buku Terapi Sholat Bahagia dengan ibu dari salah satu mahasiswa retorika itu, karena pulsanya habis sehingga tidak mencukupi untuk menelponnya kembali. Begitulah pengantar dari mantan Dekan Fakultas Dakwah sebelum memasuki materi perkuliahan.
***
Ketika  aku melihat ke arah dimana Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag duduk. Ku melirik 3 buku yang terletak di atas meja, tapi dari salah satu buku itu saya tidak melihat apa judul dari buku itu, namun saya hanya melihat buku berwarna hijau yang berjudul Doa-Doa keluarga bahagia, karena memang buku itu terletak di paling atas dari 3 tumpukan buku tersebut. Saat melihat buku bergambar laki-laki berkacamata itu dengan berbaju putih dan berkopyah putih saya langsung teringat ketikak saya dan beberapa teman saya menjenguk pengarang buku itu karena sakit akibat kecelakaan saat di jemput oleh salah satu mahasiswanya dengan mengendarai sepeda motor.
Meskipun beliau sakit yang menurut saya itu sakit yang cukup parah, di bagian wajahnya yang rupawan itu terlihat bengkak berwarna hitam, tetapi beliau masih tetap saja semangat memotivasi para mahasiswanya agar bisa menjadi orang-orang yang selalu bersyukur dan tidak mengeluh dengan apa yang terjadi karena apa yang terjadi sudah di tulis sebelum kita terlahir ke dunia. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Haddid [57]: 22
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. Al-Haddid [57]: 22).
Ketika mau pulang dari rumahnya, beliau memberikan buku Doa-Doa Keluarga Bahagia kepada beberapa mahasiswanya yang sudah bersilaturrahim kepada beliau termasuk saya juga mendapat buku itu. Saat itu perasaanku sangat senang, dan saya rasa teman-teman juga merasakan apa yang saya rasakan saat itu meskipun dari perjalanan berangkat menuju rumah beliau hingga pulang di guyur hujan.
Di bawah buku berwarna hijau itu saya juga melihat sekilas buku dengan judul 60 Menit Terapi Shalat Bahagia yang bewarna putih abu-abu. Saat melihat kedua buku tersebut “kenapa ya.. prof Ali kok bawa buku TSB dan Doa-Doa Keluarga Bahagia, jangan-jangan suruh praktek terapi sholat bahagia sambil baca doa-doa, waahh… enak ini biar gak sedih mikirin masalah terus,,, pikirku dalam benakku.
Tiba-tiba dosen dengan rambutnya yang sudah mulai memutih itu bertanya pada salah satu mahasiswa yang duduknya di belakang kira-kira jaraknya 7 meter dari tempat duduk dosen itu, “Zen kamu lihat apa judul buku ini? Saat itu aku hanya mendengar suara zen menjawab pertanyaan prof Ali bahwa laki-laki yang duduk di baris ke 3 dari dari tempat duduk saya itu tidak melihat apa judul buku tersebut, karena memang jaraknya cukup jauh dari tempat duduk zen.
Lalu pengarang buku Ilmu Pidato itu lanjut bertanya pada Nitra yang duduk di samping kanan saya pas, Nit kamu bisa lihat apa judul buku ini, apa judul buku ini? Terima Kasih jawab gadis cantik yang ada di sampingku. Saat itu saya juga berusaha melihat judul buku itu tetapi karena jaraknya cukup jauh jadi tulisan Terima Kasih sebagai judul buku tersebut tidak bisa terlihat secara jelas di mataku.
Terima Kasih adalah judul buku yang ada di depan pengarang buku Ilmu Dakwah itu, lalu Laki-laki kelahiran Lamongan mengambil buku tersebut dari meja yang ada di depannya, beliau memengangnya dengan di tangan kirinya, sambil lalu membuka bukunya dan membacakan pengarang buku tersebut serta menuliskan di papan tulis warna putih dengan Boardmarker warna hitam. Bahwa pengarang buku tersebut adalah JOHN KRALIK. Lalu melanjutkan membaca yang disertai menulis “365 Thank Yous The Year The Simple Act of Daily Gratitude Changed My Life” itulah yang beliau tulis di papan tulis dari buku yang berjudul Terima Kasih.
Ini adalah cerita tentang bagaimana JONH KRALIK sukes karena setiap hari menulis ucapan Terima Kasih. Lalu Fajriyah di suruh membacakan Judul buku yang sudah di tulis prof Ali di papan tulis dalam bentuk bahasa inggris, dan perempuan manis yang berada tepat di belakangku itu membacakannya dengan suara serak-serka malu.
Alumni Pesantren Ihyaul Ulum Gresik itu mengulang membacakan tulisan itu sambil berjalan kedepan dengan senyumnya yang menawan, berhubung tulisan tersebut bahasa Inggris maka beliau mengartikan ke Bahasa Indonesia agar bisa di pahami, apa lagi saya yang belum mahir bahasa inggris. Namun tetap saja yang lupa akan arti dari tulisan itu karena saya ketinggalan untuk mencatatnya, mungkin karena saya kurang focus sehingga saya sering ketinggalan tentang apa yang di sampaikan dosen/ teman-teman.
Tak lama kemudian tiba-tiba ada 5 mahasiswa membuka pintu rungan dan mengucap salam dengan bersamaan. “Assalamu’alaikum” akupun menjawab wa’alaikum salam. Aku juga melihat satu dari kelima mahasiswa yang terlambat itu ada yang mengenakan sandal, lalu saya berkata pada laki-laki ganteng itu“mas jangan pakek sandal gak boleh, sana cari pinjeman dulu, cowok keren itupun menjawab sambil tersenyum manis “iya, aku bawa sepatu kok di dalam tasku.
Dari ke 5 mahasiswa ynag terlambat masuk kelas itu, Prof dengan kebijaksanaannya memberikan hukuman kepada mereka, dan hukuman yang beliau berikan adalah rukuk dengan membaca tabih (Subhanallah) 150 kali kemudian di tambah sujud juga dengan membaca tasbih 150 kali jadi jumlahnya ada 300 bacaan tasbih. Mereka berlima mengambil posisi di pojok depan tepatnya sebelah kanan meja dosen.
Sampailah pada cerita bahwa ada seorang pasien yang mengirim surat kepada dokter yang udah merawatnya sekian tahun yang lalu, pasien tersebut menyatakan dalam suratnya “andaikan tidak engkau tangani penyakit saya, maka saya tidak akan bisa menulis surat ini. Terima Kasih” menerima surat tersebut dokternya merasa senang sekali, karena rasa senang yang di rasakannya ternyata dokter itu mebalas surat tersebut lebih panjang dari surat yang dari pasiennya tadi. “Dokter berkata: ini adalah pasien yang pertama kali sepanjang karier saya yang memberikan apresiasi seperti ini (sepanjang hidup saya).
Prof Ali bertanya kira-kira dokter itu senang gak menerima surat itu, para mahasiswapun menjawab “iya senag”. jadi hanya dengan ucapan terima kasih sudah membuat hati orang senang. Lalu beliau berkata “Saya berperinsip Senyum Manusia adalah Senyum Tuhan.” Jadi intinya jika kita mampu membuat orang lain tersenyum berarti kita sudah membuat Tuhan tersenyum kepada kita. Subhanallah.


Tiba-tiba Penceramah Internasional itu, bernyata pada Nitra kenapa kesakitan tah nit? Iya, jawab ninit dengan wajah memerah dan kesakitan.
Prof Ali: Sakit apa?
Nitra: sakit lambung
Prof Ali: Owww… udah periksa ke dokter?
Nitra: sudah
Prof Ali: di kasih obat apa sama dokter
Nitra: Obat Magh
Prof Ali: Milanta? Apa obat Magh ya..
Nitra: iya
Penyakit lambung itu, penyakit kebanyakan orang. Tapi penyakit lambung tidak bisa disembuhkan seumur hidup, yang bisa hanya nyegah. Dan penyakit lambung itu sangaaaatttt… erat dengan ketegangan. Saya tadi kan periksa gigi, tadi saya bilang Fathur, saya agak terlambat nanti karena saya sakit gigi, inilah pernyataan Prof Ali, tiba-tiba Trisno menyeletuk dari belakang “tapi kok gak terlambat?” celetukan bocah yang bertubuh besar itu membuat satu kelas retorika tertawa serentak.
Dokter yang menangani beliau adalah dokter profesional ia dokter katolik, lalu ketika pertama kali di cabut dan darahnya keluar,  dokter itu bilang: bapak stress, lo kok bapak tahu? Iya, darah kalau orang stress itu rata-rata darahnya begini kental. Kebetulan dokter itu dalam menangani pasien itu sudah puluhan tahun lebih jadi tahu mana darahnya orang yang stress atau bukan.
Dosen teladan nasional ini, ternyata takut terhadap jarum suntik, ungkapnya ketika bercerita di depan mahasiswa retorika “suntik aja takut, apalagi dicabut”. Sambil mengekspresikan suaranya Kreekkk… Kreekk. Ketika gigi ayah dari tujuh anaknya beliau berkata: Ya Allah…gpp gigi saya di cabut asalkan pada saat saya memejamkan mata Engkau datangkan Rasul Mu untuk memandang wajahku. Jadi ketika itu beliau sudah pasrahkan kepada Allah.
Lalu darah itu keluar lagi dan dokternya mengatakan, nah kalau ini bukan darah stress, lalu dosen kelahiran tahun 57 itu menyimpulkan “Sedikit saja kesedihan itu akan mempengaruhi darah kita, jadi tidak ada satu kesedihan yang tidak berpengaruh pada tubuh kita”
Bagaimana dengan orang yang sedih sampai bertahun-tahun? Jadi bagaimana kira-kira bentuk darahnya orang-orang yang sedihnya sampai bertahun-tahun? Tanya dosen Favorit ku pada mahasiswa retorik sambil tertawa. Bencinya kepada orang-orang itu bertahun-tahun bagaiman saya tidak bisa membayangkan.?
Prof Ali, kembali bertanya pada Ulfian, dokternya tadi itu senang apa gak? Jawabnya,  iya senang. tadi yang saya tulis “Senyum Manusia adalah senyum Tuhan” pernyataanya setelah bertanya pada salah satu mahasis berkulit putih itu. Lalu beliau bertanya lagi pada mahasiswanya “ketika dokter tadi itu tersenyum siapa yang tersenyum pertama kali?” jawabnya: Allah. Tanya lagi, Senyum kenapa? Karena ada orang yang menghargai jasa orang, pertanyaan sekaligus pernyataan. Jadi kita menyenangkan orang lain maka Allah pun juga akan menyenangkan kita. Subhanallah. Lalu Allah SWT berkata pada malaikat: Malaikat bukalah pintu-pintu (chanel-chanel) rizki yang masih tertutup itu, Karen ada satu orang yang menyenangkan orang lain. Subhanallah
Sebentar lagi kalian saya suruh menulis, tulis dimana aja, gak bawa laptop? Jangan menyerah, masak gara-gara tidak ada laptop kalian berhenti berkarya. Ungkap pengarang buku Tekhnik Khutbah Jum’at Komunikatif.
Ketika dia gerak jalan, lomba lari (jalan sehat), pernah ikut lomba lari dian? Tanya prof pada Diana. Tidak prof tapi jalan sehat, jawabnya. Kenapa kamu gak ikut lomba lari? Tanya prof kembali. Lalu Dianapun menjawabnya, kegemukan prof. kemudian mahasiswa retorika tertawa meledak mendengar peryataan dari Diana, prof Ali pun juga ikut tertawa. Meskipun yang lain sudah berhennti tertawa tetapi Diana yang mengaku bertubuh gemuk itu masih saja melanjutkan tertawanya sendiri.
Lalu di dalam lomba lari ini, ada teman lomab lari dari pengarang buku terima kasih (John Kralik) itu menunjukkan gubernur, kamu tahu gak gubernur? Itu lo gubernur. sambil menunjukkan tangannya ke depan seakan-akan ada gubernur di depannya. Ayo sekarang kita mendekat ya. Akhirnya ia tahu gubernur itu. Maka ia (John Kralik) itu menulis pada teman yang sudah menunjukkan gubernur tadi. Betapa sepelenya, dia menulis surat “Pertama, terima kasih kamu itu orang penting kok mau lari sama saya, yang kedua terima kasih andaikan aku tidak engkau tunjukkan gubernur itu, mungkin selamanya saya tidak tahu kalau dia gubernur, terima kasih. Sungguh luar biasa sesederhana itupun dia berterima kasih.
Sudah sekian lamanya perkuliahan di mulai, ternyata masih ada satu mahasiswa yang biasa di panggil gundul oleh teman-temannya itu baru datang, dosen yang berhati mulia itu, tidak marah atau menyuruh gundul itu keluar, tetapi beliau hanya memberikan hukum sujud syukur dengan membaca tasbih 150 kali. Subhanallah mulia sekali hati dari Guru Besar UINSA itu.
Di jelaskannya tentang Gratitude oleh dosen berkacamata itu sambil menggaris-garis dibawah tulisan itu dengan jari telunjuknya. Gratitude itu adalah bentuk terima kasih. Sifat nya Allah gratitude suka berterima kasih dan menghargai, yaitu Syakur beliau menulis kata Syakur dengan tulisan arab da boardmarker warna biru tanpa di beri syakal (harokat). Syakur itu artinya Allah itu sang paling menghargai.
Lalu dosen Tekhnik Khitobah 2 ini bertanya pada salah satu mahasiswa yang humoris, Tris kamu sekarang umur berapa? 15 pak. Wahahaaa… orang-orang seisi ruangan itu tertawa serentak mendengar ungkapan Trisno umur 15 tahun. Lalu menjawab lagi 17, eh 20 pak. Anehhh tohh ada orang lupa usianya sendiri ucap prof Ali lucu sehingga ruang kelas semakin ramai.
Misal, masa kecil Trisno 15 tahun, berarti trisno sudah bisa mnulis 15 tahun. Mestinya kamu harus menulis 365 x 15. Kemudian Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Jatim itu, menyuruhku menghitung 365 X 15. Ohh saya bingung karena saya tidak pandai menghitung. Tapi beliau menunjuk HP yang ada di atas kursi sebelah kiri saya. sambil berkata ini ada HP kan? Sayapun langsung mengambil HP itu dan menghitungnya ternyata hailnya 5475. Jangan-jangan gak tau kalau di HP nya ada kalkulatornya..!!! guyon Proffesor itu menimbul gelak tawa.
Saya yakin Tris, jika kamu sudah menulis surat 5475 terima kasih kepada orang lain, maka hidupmu lebih sukses dari pada hari ini. Berarti kamu sudah membuat 5475 tersenyum insyaallah itu udah cukup untuk membuka pintu-pintu rahmatmu. Ucap seorang Trainer itu memotivasi mahasiswanya supaya dapat munulis seperti Jonh Kralik. Sekarang saya Tanya Tris, siapa orang ynag pernah kamu kirim surat dengan ucapan terima kasih? Awalnya Trisno bingung tapi akhirnya ia menjawab ayah dan ibu. Ini adalah salah satu bagian dari cara hidup saya.
Selain Trisno yang ditanya oleh beliau, Azka pun juga di tanya tentang siapa saja yang pernah di ucapkan Terima Kasih. Azka menjawab, Prof Ali, orang tua, ketika membaca biografinya dan setiap menulis selalu dibaca orang tuanya dan ketika di nasehati juga mengucap terima kasih. Mendengar ungkapan Azka aku merasa iri karena saya tidak pernah merasakan seperti itu, apa lagi ketika stiap tulisannya dibaca oleh orang tuanya.
Lalu pak Ali menyuruh Hakim untuk menuliskan di papan tulis Lainsyakartumm La Azidannakum dengan tulisan bahasa Arab, namun Hakim tidak langsung menulis di dapapan tulis karena masih mencari ayat tersebut dalam al-Qur’an yang ada di Hp-nya. Kurang lebih mecapai 2 menit ia masih aja belum menuli ayat itu. Akhirnya Dosen yang bijak itu menyuruh supaya tidak jadi menulis.
Kata Prof berwajah rupawan itu, belum ada orang yangg menafsirkan Lainsyakartum La Azidannakum sedetail itu “If You Always Gratitude”. Dosen teladan itu tiba-tiba menyuruh semuanya untuk berhenti menulis karena tidak sengaja melihat salah atu mahasiswanya mengipat-ngipatkan tangannya dengan menunjukkan kelelahan mencatat, lalu beliau betanya pada Nafis, kenapa sudah capek tah fis? Nafis menjawab, iya pak capek jawab Nafis sambil tertawa. Yadah sekarang berhenti dulu kalau capek, ucap dosen bersepatu hitam itu dengan lembut.
Sambil menunggu Diana sama Ulfian izin ke toilet, Prof Ali sambil bertanya pada Fajriyah tentang sudah mendapat berapa halaman yang menulis. Saya juga sambil melanjutkan tulisanku, ulfian dan Diana pu datang memasuki ruang kelas lalu dosen yang pandai memotivai itu melanjutkan keterangannya yakni jika bersyukur ingatlah jasa orang yang sekecil apapun dan lupakan kesalahan orang sebesar apapun “sambil menunjuk-nunjuk tangannya ke depan”. Lalu meletakkan kedua tangnnya di saku celana ynag sebelah pinggir.
Dalam sholat ada bacaan al-Fatihah atau Alhamdulillah, tujuh ayat yang di ulang-ulang di dalam Al-Qur’an Assab’ul Matani, kemudian prof Ali menyuruh salah satu mahasiswanya ynag bernama Irfan Ilhami untuk membacakan surat al-Fatihah dimulai dari basmalah, lalu laki-laki berkulit putih itupun membaca ayat tersebut sambil menghitung jumlah ayat yang dibacanya. Laki-laki itu mengulang membacanya sampai dua kali bacaan.
Surat al-Fatihah di baca ketika sholat maka harus 7 ayat jika tidak tujuh ayat maka sholatnya tidak sah, jadi jika tujuh ayat maka harus membaca dari basmalah, lalu bagaimana dengan yang membacanya tanpa basmalah? Berarti ketika sampai ayat Ghairil Maghdubi ‘alaihim itu di pisah.
Kata Alhamdulillah di letakkan diawal supaya menjadi manusia  yang berkepribadian Hamdalah, Istri paling bahagia yang punya suami memilki kepribadian Hamdalah. Dan orang ynag paling pelit ialah orang yang pelit penghargaan, maksudnya tidak pernah memberikan penghargaan atau apresiasai kepada orang lain.
Saya lulusan pesantren ketika itu ijazah aya tidal laku, lalu saya diminta untuk mengajar di SMA katolik waktu itu saya hanya di bayar 30 ribu perbulan kalau gak salah, saya belum mendapat pekerjaan dan saya juga belum pegawai negeri, lalu saya menikah, pertama kali yang mengucapkan selamat atas pernikahan saya adalah orang katolikk itu, yang kedua ketika istri saya hamil dia (katolik)betul-betul menjabat tangan saya sambil mengucapkan selamat ya pak, selamat ya.. sangat luar biasa bapak dan ibu. Sampai sekarang saya tidak akan pernah lupa wajah orang itu, saya tidak akan lupa dengan orang itu, walaupun dia beda agama dengan saya. setelah itu saya mendengar “saya baru nikah pak satu bulan yang lalu” langsung saya tanda tangani dan saya ucapakan selamat. Paparan ini merupakan pernyataan dari Prof. Dr. Moh Ali Aziz, M.Ag
Kini telah sampailah pada waktu dimana berakhirnya perkuliahan hari ini, ketika teman-teman pada keluar dari ruang kelas saya masih berada di dalam ruangan tersebut bersama Fajriyah dan Baity saat itu saya lagi membereskan barang-barang saya di dalam tas, lalu saya lari mengejar Ninit dan Mahabbah, aku melihat mereka sudah berada di lantai satu akhirnya saya menambah kecepatan berjalan saya, haha akhirnya saya bisa mengejar mereka berdua.
Aku dan Nitra berbeda tujuan dengan Mahabbah, akhirnya kita berpisah aku dan Nitra berlajan terus menuju gang dosen, berhubung saya lagi mengirim file dari Hp nya ninit ke Hp ku belum seleai akhirnya ninit mengajakku k eke Indomaret agar waktu dalam menntransfer file tersebut lebih lama, aku dan Nitrapun berlajan terus menuju Indomaret. Sepulang dari Indomaret hujan turun membasahi tubuhku dan Nitra, lalu saya berhenti di Warung Ijo untuk berteduh sambil makan.

Sabtu, 25 April 2015

LION STYLE



Selasa, 21 April 2015, kelas retorika khususnya semester 6 kedatangan seorang host dari TVRI, yang di undang langsung oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. untuk memberikan ilmunya kepada mahasiswa retorika. Ini adalah bukti peduli, cinta dan kasih sayangnya Prof Ali pada mahasiswa retorika, sehingga disetiap hari selasa selalu mendatangkan orang-orang hebat, salah satunya ialah bapak Addin Chadiri selaku host TVRI yang sudah mencapai sekitar 30 tahun berprofesi sebagai seorang host.
Sebelum bapak Addin Chadiri lanjut menjelaskan tentang bagaimana menjadi seorang host/presenter yang baik, beliau terlebih dahulu mengajari kita tentang bagaimana cara mencoba microphone yang benar sebelum perform, bahwa mencoba microphone yang benar ialah dengan cara di ketuk mic tersebut dan tidak boleh ditiup karena di dalam micropon terdapat kain selaput tipis atau kalau seorang gadis identik dengan selaput perawannya. Jadi jika microphone itu di tiup khawatir selaput itu akan rusak (robek), sehingga mempengaruhi kwalitas suara micropon tersebut.
Kedatangan bapak Addin Chadiri merupakan silaturrahim yang kedua dengan mahasiswa retorika, namun pada silaturrahim yang pertama mahasiswa retorika semester 6 mendatangi langsung ke kediaman beliau dan disana juga di ajari bagaimana menjadi seorang presenter/host yang baik, selain itu juga di setelkan beberapa rekamannya selama menjadi host dan ketika bernyanyi dengan lagu sepanjang jalan kenangan.
Menurut beliau nyanyian sangat terkait dengan host, karena seseorang yang pandai bernyanyi mampu berucap (bertutur kata) dengan penuh keindahan, serta dapat  mengatur kata demi kata, kalimat demi kalimat yang akan ia keluarkan sehingga melahirkan suatu lagu yang enak di dengar. Contohnya yang masih di siarkan di SCTV ketika acara Inbox pagi dalam sesi tebak judul lagu. Ketika itu Putri Sangkar membacakan teksnya itu tidak berlagu misalnya, “Sepanjang jalan kenangan kita selalu bergandeng tangan”  jika seseorang tidak mempunyai referensi maka ia tidak akan bisa menjawab tapi jika sesorang itu tahu dan mempunyai referensi tentang lagu itu meskipun di sampaikan tanpa berlagu maka pastinya ia bisa menebak judul lagu tersebut bahkan juga bisa menyanyikannya.
Kaitannya dengan segenap presenter sangat terkait. Kalau seseorang itu tidak bisa nyanyi  tentu orang yang satu dengan orang yang lain itu akan berbeda ketika perform. Kisah nyata bahwa ada segenap presenter, presenter A bisa nyanyi sedangkan presenter B tidak bisa nyanyi kemudian dari segenap presenter (penyiar, presenter, host, pewawancara, pembawa acara dll) di suruh nyanyi bersama-sama, namun apa yang dirasakan si B ketika semuanya bernyanyi? Ketika itu si B merasa minder karena tidak bisa bernyanyi sendiri. Jadi memang benar bahwa pandai bernyanyi sangat berpengaruh dalam perpform baik untuk diri sendiri maupun pada audiens/pemirsa/penonton. Karena berbicara itu juga ada naik turunnya (intonasi).
Contoh ketika berbicara “selamat siang permirsa, sampai jumpa kembali bersama saya” kalimat ini disampaikan dengan nada monoton maka tidak akan ada orang yang suka mendengarkannya karena tidak enak di dengar oleh telinga. Namun jika disampaikan dengan berintonasi maka kata-kata tersebut akan lebih indah di dengar.
Meskipun suara bapak Addin Chadiri belum pulih sempurna seperti dulu, tapi suara beliau masih tetap merdu dan enak di dengar oleh telinga. Suara yang beliau miliki sekarang tidak sedikitpun menghilangkan semangat beliau untuk mengamalkan ilmunya kepada mahasiswa retorika.
“Saya sangat bersyukur dan senang sekali karena diberi kesempatan untuk berbagi ilmu dengan anda semua tentang apa public speaking atau bagaimana menjadi host yang handal.” Inilah ungkapan yang disampaikan oleh host TVRI tersebut ketika mengisi pelajaran di kelas retorika.
Bapak Addin Chadiri mengalami gangguan pada suara sudah mencapai 5 bulan seperti yang di alami Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. namun Alhamdulillah setelah mencapai ke 6 bulan prof Ali bisa sembuh dan kembali normal suaranya. Semoga saja suara bapak Addin Chadiri juga segera kembali pulih. Amin.. berhubung sekarang suara bapak Addin Chadiri masih belum pulih betul sehingga harus menggunakan microphone saat menyampaikan materi tentang host. Supaya bisa terdengar jelas tanpa mengeraskan suaranya.
Di dalam menggunakan microphone juga ada tekhniknya, misalnya ketika perform jika microphone nya itu tidak seberapa mahal maka jaraknya tidak boleh terlalu jauh dengan mic tersebut, jika yang digunakan microphone-microphne seperti ynag digunakan yang digunakan host/presenter televisi maka jaraknya cukup 1 jengkal, namun jika microphone yang digunakan dalam broadcast yang harganya sampai mencapai berjuta-juta maka jaraknya microphone dengan kita agak jauh atau kurang lebih 3 jengkal. Jadi pandai-pandailah menyiasati karakter microphone, seberapa jarak yang harus ditempuh supaya modulasi suara bisa di dengar dengan enak.
Untuk melatih suara (olah vocal), bawalah naskah lalu berlatihlah di pantai, dengan mengambil jarak kurang lebih sampai 150 M. lalu mintalah di dengarkan kepada teman kita, bahwa suara yang kita lepaskan sudah kedengaran dengan jelas apakah belum. Jika artikulasinya A.I.U.E.O belum terdengar jelas berarti suara masih perlu dikeraskan lagi sehingga jelaslah artikulasi tersebut meskipun di dengarkan dari jarak 150 M dan ada suara ombak yang sangat kencang. Beeeerrrrrrrr…… bwweeeerrrr…. Bunyi ombak yang di contohkan oleh host TVRI itu.
Tidak semua orang dapat berbicara dengan dengan jelas dan lancar biasanya peyebabnya karena ada gangguan pada rongga mulut, struktur gigi tidak rata, gangguan itu akan mempengaruhi kelancaran berbicara, namun semua itu akan bisa diatasi dengan cara latihan yang sungguh-sungguh. Tidak ada seorangpun dalam berbicara atau bertutur kata itu sama persis dalam pelafalan A.I.U.E.O nya, baik menggunakan irama/tanpa irama, atau dalam tasrifnya.
Dalam berbicara harus mau membuka mulut kita, supaya artikulasinya jelas. Namun ada juga orang yang ketika berbicara tanpa membuka mulut lebar-lebar tapi cukup jelas artikulasinya dalam berbicara. Oleh karena itu Endang Estorina mengatakan banyak-banyaklah berlatih A-I-U-E-O karena itu akan berpengaruh rongga mulut, dan berbicara keras juga akan meloggarkan pita suara kita.
Apa yang dulu dilakukan bapak Addin Chadiri ketika ada waktu senggang…? Ialah beliau pergi ke tempat karaoke untuk berlatih vocal bahkan kalau latihan beliau sampai dengan 25 lagu, super sekali. Sebelum suara bapa Addin mengalami gangguan beliau juga bisa bernyanyi dengan menirukan Charles. Ini bukanlah maksud menyombongkan diri tapi salah satu cara beliau dalam memotivasi mahasiswa retorika.
Syukur Alhamdulillah meskipun bapak Addin Chadiri mengalami gangguan suara. Tapi atas izin Allah SWT beliau bisa perform dengan baik disamping memang shonsistemnya yang bagus beliau juga pintar dalam menggunakan tekhnik-teknik bicara yang baik sehingga tidak terlihatlah suara yang serak namun hanya terdengar suara yang  sebagaimana bisanya seperti tanpa mengalami gangguan suara. Sehingga Alhamdulillah tidak ada sedikitpun komplenan dari masyarakat tentang suara bapak Addin Chadiri. Subhanalllah itulah kuasa Allah SWT. Ketika itu beliau perform di Masjid Agung Surabaya dalam acara Harlah PMII pada 17 April 2015 yang di hadiri oleh bapak Presiden Joko Widodo dan lain-lain. Yang di siarkan langsung di TV9. Tapi selesai beliau perform sauranyapun kembali serak lagi.
Sesuai yang disampaikan bapak Addin Chadiri kemaren pada selasa, 22 April 2015. Bahwa pada tanggal 24 nanti ada acara dokter bedah dan pada tanggal 25 nya juga ada acara manten dan disitu beliau perform meskipun suaranya belum pulih betul. Jadi kita harus pandai-pandai menyiasati bagaimana karakter microphone, bagaimana cara yang harus kita lakukan, bagaiman mulut kita ketika berbicara (cara berbicara) intinya kita harus punya kepekaan bukan kepekkaan. Beliau mengulangi kata kepekaan hingga 2 kali. Bahwa bukan kepekkaan tapi kepekaan.
Untuk mengikuti seleksi menjadi seorang host/presenter salah satu syarat yang harus dipenuhi ialah wajah harus enak di pandang atau istilah lainnya ialah cantik dan ganteng. Atau bisa juga dikatakan dengan Camera Face. Jika itu sudah terpenuhi maka tidak terlalu sulit untuk menjadi seorang presenter televisi meskipun suara kurang mendukung. Karena yang dilihat pertama dalam televisi ialah wajah.
Ada seseorang yang enak suaranya pinter dalam berbicara (berkomunikasi) namun karena wajah kurang mendukung sehingga ketika tampil di televisi 1 sampai 2 kali masih boleh tampil tapi ketika yang ke 3 kali ia tidak boleh tampil karena hanya persoalan wajah. Ada juga seseorang yang tidak enak suaranya (sengau), tapi wajahnya cantik, putih dll. Ia menjadi populer dimana-mana. Jadi intinya wajah sangat berpengaruh untuk menjadi seorang host. Karena memang kadang-kadang pimpinan broadcast itu berbuat sesuai kewenangannya tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Selain dalam segi wajah suara juga harus bagus. Ada seoarng yang ikut seleksi ia juara lomba da’I da’iyah wajahnya sudah memenuhi syarat tapi suaranya cempreng sehingga tidak lulus seleksi. Berbicara harus di atur dan di olah terlebih dahulu tidak asal berbicara supaya bisa di dengar dengan indah.
Seseorang boleh meniru gaya suara muballigh yang lain tapi harus konsisten. Tidak boleh berubah-ubah misalnya, sekarang tampil prima, bulan depan tidak. Maka itu akan hancur karena suara yang dibuat-buat tidak akan bisa mempertahankan konsistensinya.
Pernafasan yang paling baik di gunakan ketika berbicara ialah pernafasan perut. Caranya hirup atau tahan lewat hidung kemudian di keluarkan lewan mulut. Ketika menghirup perut di tarik dan ketika di keluarkan maka perut di kembungkan. Jika sudah terbiasa maka ketika kita berbicara perut itu secara otomatis sudah bermain sendiri. Maksudnya bermain ialah ketika bernafas sudah biasa menggukan pernafasan perut. Bahwa menggunakan pernafasan perut akan mengeluarkan suara orsinil yang bagus dan mengeluarkan modulasi yang luas. Namun jika pernafaan hidung akan mengganggu ketika kita berbicara seperti terlihat menggos-menggos.
Menurut bapak Addin Chadiri, bagi laki-laki suara akan lebih indah jika suaranya besar atau ngebas beda dengan perempuan tidak perlu ngebas seperti suara cowok, yakni tetap dengan oriinilitas seperti suara yang di miliki tapi harus di olah dengan sebaik-baiknya. Misalnya kalau laki-laki orangnya ganteng tinggi besar dll. Tapi suaranya seperi perempuan (banci), karena yang seperti itu akan mempengaruhi esensi kita sebagai seorang laki-laki.
Sebagian pada sepakat bahwa seseorang yang mempunyai cacat fisik sangat tidak memungkinkan untuk tampil sebagai host. Terutama cacat fisik di bagian wajah karena itu akan sangat mengganggu konsentrasi penonton atau pemirsa. Beda dengan cacat kaki, seseorang bisa bertutur kata yang baik, lucu, tidak mengganggu konsentrasi pemirsa serta menarik dalam berbicara atau menarik dipandang mata sehingga meskipun cacat kaki tidak terlalu berpengaruh.
Seorang host harus sudah mempunyai kesiapan jasmani maupun rohani. Suka berpakaian rapi, bersih, harum dan tidak terlalu norak. Jadi kita sebagai cahost (calon host) harus bisa membiasakan diri berpakaian rapi. Karena ada seorang narasumber ketika perform baunya tidak enak sehingga mengganggu orang lain.Yang paling aneh ialah ada seorang istri yang mempunyai suami, yang mana bau suaminya itu sangat tidak enak, kecut, puuwwwaaaahit dll. Tapi si istri tersebut sangat suka dengan bau suami yang seperti itu. Bahkan tidak suka dengan bau parfum yang harum.
Untuk menjadi seorang host yang handal, baik dan juga seperti halnya host-host yang sekarang banyak muncul di televisi-televisi swasta. Bahwa sebagian besar host di televisi-televisi swasta sekarang itu selebritis, aktris, actor, bintang film, bintang sinetron yang notabene itu sistemnya sebagian besar mereka tidak pernah belajar seperti apa yang kita pelajari. Tetapi mereka berangkat karena mereka sebagai seorang Public Vigur yang sudah di kenal oleh masyarakat. Kemudian mereka sudah mampu berbicara dihadapan Public, keberanian udah ada, mental sudah kuat, wawasan sudah bagus dan luas.
Karena mereka saya kira juga banyak pengalaman-pengalaman sehingga keberanian mereka tampil itu sudah tidak ada persoalan lagi. Ini menurut mereka. Ketika mengatakan kata “Ini menurut mereka” bapak Addin mengulangnya sampai dua kali sebagai penegasan kata.
Jika presenter-presenter yang berangkat karena mereka sebagai seorang Public Vigur dll. Maka wajah tidak menjamin yakni tidak berpengaruh. Yang penting ia bisa menghibur penonton. Misalnya seperti para artis atau aktris dan lainnya yang wajahnya tidak ganteng atau tidak cantik. Karena tidak mungkin wajah yang pas-pasan atau bukan camera face berangkat dari disiplin ilmu yang belajar kemudian ia ikut seleksi di televisi tentu tidak akan bisa masuk seleksi atau tidak akan bisa tampil di televisi.
Hal ini bukan menghina atau meremehkan, karena memang media televisi ynag sangat konsen untuk bagaimana menciptakan seorang host yang tidak keluar dari koridor-koridor teladan, etika dan sebagainya.
Kembali pada persoalan pokok yakni bagaimana menjadi seorang host/presenter atau kalau dulu dikenal dengan pewawancara, presenter atau bisa juga disebut dengan pembawa acara. Istilah host muncul hanya baru-baru saja. Kalau dulu host itu hospos, hospek dll.
Menjadi seorang host/presenter di televise tidak semudah berbicara di radio yang tidak menampakkan wajahnya, jadi untuk tampil di televisi diperlukan latihan yang sungguh-sungguh dan persiapan yang sangat matang baik cara berbicara, cara menatap kamera, cara menggunakan microphone yag benar, dan juga penampilan yang menarik dll.
 Seseorang yang tidak pernah atau tidak terbiasa tampil di televisi tidak akan bagus bahkan bisa memalukan meskipun ia pintar bahkan cerdas. Karena ia belum pernah tampil di televisi sehingga ragu-ragu dalam menyampaikan yakni tidak bisa meyakinkankan pemirsa atau audience terhadap apa yang disampaikan, karena ia belum tahu bagaimana cara menatap kamera, pandangannya tidak focus dan kemana-mana dan bagaiman ekspresi ketika menyampaikan.
Seorang audience akan mudah terpengaruh dan mengikuti sesuai apa yang kita sampaikan salah satunya ialah bagaimana cara kita menyampaikan kepada mereka serta bagaimana ekspresi ketika kita menyampaikan informasi tersebut.
Berbeda dengan seseorang yang sudah biasa tampil di televisi, ia akan mampu menguasai audience dan sudah bisa menapa camera dengan baik, focus, konsentrasi yakni pandangannya tidak kabur kemana-mana.
Bapak Addin Chadiri sudah memberikan beberapa panduan menjadi seorang host yaitu:
Persiapan yang diperlukan:
1.      Kesehatan fisik atau jasmani (maaf tidak cacat fisik)
2.      Materi yang akan disampaikan disesuaikan dengan audience (tingkat kecerdasan, profesi dsb)
3.      Berpakaian rapi, bersih, pantas serta tidak terlalu norak
4.      Berlatih berbicara didepan kaca sebelum tampil ditelevisi (bagi pembicara pemula)
5.      Hadir minimal 30 menit sebelum tampil untuk orientasi medan dan pengarah seperlunya dari produser TV
Syarat menjadi penyiar/host dalam segi berbicara yaitu:
1.    Mampu bertuturkata dengan baik
2.    Enak di dengar
3.    Mudah di mengerti
4.    Artikulainya dapat didengar dengan jelas
5.    Dan lain-lain
Setiap orang pasti berbeda dalam bertuturkata ada yang enak dan ada juga yang tidak enak, biasanya perbedaan itu terlihat dari:
1.      Cara berbicara
2.      Nada suara
3.      Menggunakan intonasi atau monoton
4.      Modulasi suara
5.      Bahasa yang digunakan ketika berbicara
6.      Dan lain-lain
Bapak Addin Chadiri juga sudah memberikan beberapa acuan mengoptimalkan suara, sesuai dengan yang diberikan oleh beliau yaitu:
Alat Pernafasan:
Terdiri atas :
1.  Pharynx atau hulu kerongkongan
2.  Larynx atau pangkal tenggorokkan
3.  Trachea atau batang tenggorok
4.  Lungs atau paru-paru
5.  BronchIal passages atau lIntasan tenggorok
6.  DIapraghm atau diafragma,
    Sekat rongga badan antara dada dan perut
PROBLEMATIKA SUARA
Dalam menyarakan sesuatu para penyiar radio atau televisi dan pembawa acara seringkali dihadapkan pada 3 persoalan :
1.      Problematika kualitas suara, meliputi:
·         Suara parau
·         Suara tipis
·         Suara pecah
2.      Problematika penyuaraan
·         Monoton
·         Miskin nada
·         Singsong
·         Pola akhiran
·         Menderu
3.      Probematika pernapasan
·         Suara berdesah nafas
·         Suara tanpa daya
Paparan diatas ini adalah beberapa kutipan dari ringkasan bapak Addin Chadiri.
Janganlah mengingat-ingat kesalahan awal yang pernah kita lakukan Karena itu membuat kita tidak focus dan akan menkacaukan  perform kita.
Selanjutnya setelah bapak Addin Chadiri menjelaskan bagaimana menjadi seorang presenter/host yang baik, lalu beliau menyuruh satu-persatu dari mahasiswa retorika untuk mempraktekkan di depan. Karena Diana Cholidah menyampaikan suatu pertanyaan yang berkaitan dengan host kepada bapak Addin maka Diana lah yang pertama kali disuruh mempraktekkan ke depan.
Ketika Diana mempraktekkan ke depan sebenarnya suara Diana sudah enak, namun saying sekali saat itu Diana masih kurang focus dalam menyampaikan, beda dengan Azka Azkiyatul Khilmiah, Azka adalah salah satu mahasiswi retorika yang dikenal dengan kecerdasannya serta di senangi dosen. Ketika itu Azka mempraktekkan menjadi seorang host dengan baik, focus dan sudah memenuhi beberapa syarat menjadi host namun suaranya masih kurang besar.
Lalu sampailah pada giliran saya praktek ke depan, saat itu saya dari awal sampai akhir tidak focus sama sekali dalam menyampaikan. Sehingga kacaulah semuanya, ketika itu saya sangat bersedih karena saya merasa pasti itu sudah mengecewakan dosen favorit saya yaitu Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. saya tidak tahu kenapa saya sampai seperti itu, mungkin itu semua karena saya mendapat telephone dari orang tau saya dengan memberikan kabar yang tidak enak, sehingga terganggulah konsentrasi saya dan didalam pikiran saya hanya ada masalah, masalah masalah itu.
Sampai akhir kuliahpun saya masih belum focus karena yang ada dalam pikiran saya hanyalah kabar itu, saya berusaha supaya bisa focus dalam perkuliahan saya, tapi ketika saya memaksakan untuk focus, ternyata bukan tambah foku tetapi saya tambah mengingat-ingat kata-kata yang sudah di sampaikan oleh orang tua saya. dan kata-kata itu masih belum bisa terhapus dalam pikiran saya hinggi saat ini. Saya berharap semuanya akan segera berlalu dengan baik. 

Pesan yang disampaikan bapak Addin Chadiri “Jangan Sampai ada luluan dari Dakwah yang pernah menerima ilmu dari saya ada yang LION STILE.
Sekianlah tulisan yang dapat saya tulis semoga bermanfaat buat kita semua, Aminn…