Rabu, 29 April 2015

Semangat KU





Selasa, 28 April 2015 ku berjalan  bersama kedua temanku, Mahabbah dan Diana. Dari masjid menuju ruang D1.211 untuk mengikuti perkuliahan Tehnik Khitobah2. Di dalam perjalanan itu saya berkata pada Diana “Din kalau kuliahnya pak Prof jangankan hanya diguyur hujan seperti ini, meskipun ada Badaipun aku terjang” gadis manis itu ngakak mendengar celetukku sambil menanggapi, “ hahhaaa.. iya Bing meskipun ada Sunami aku lewati bing”. Ungkap wanita bersuara merdu itu.
Ketika sampai di depan kelas, saya melihat pintu ruangan tertutup “haduuh ternyata sudah masuk, jangan-jangan kita di suruh sujud syukur lagi” ungkapku pada kedua temanku yang berada di belakangku. Akupun membuka pintu ruangan dan tak lupa saya mengucap salam “Assalamu’alaikum Wr.Wb”.
Alhamdulillah ternyata saya tidak di hukum dan prof Ali tidak marah “gumamku dalam hati” saya langsung mengambil posisi duduk di barisan paling depan tepatnya di sebelah kanan sahabat saya Nitra. Sebelum saya duduk di sampingnya, saya kaget melihatnya dan bertanya, lohhh… kamu kok masuk kuliah katanya sakit? Gadis cantik berkulit putihpun menjawab “iya, ma udah mendingan ucapnya dengan wajah yang sangat pucat dan tampak kesakitan.
Aku melihat ke arah kiri depan, disitu ada dua orang laki-laki yang sedang duduk berhadapan di atas kursi sambil bercakap-cakap dan memencet Hpnya, lalu muncul pertanyaan dalam benakku “ngapain ya.. mas Farid sama pak prof kok kayaknya srius banget,? Ternyata laki-laki berkemeja putih dengan garis-garis hitam itu ingin menelpon orang tua dari mahasiswa yang berada pas didepanya. Awalnya dosen yang bijaksana itu menghubungi ayah dari laki-laki berjaket hitam, namun karena ayahnya tidak bisa di telpon akhirnya langsung menghubungi orang tua perempuannya, ternyata ibunya bisa di hubungi dan saat itu juga di ceritakan tentang apa yang terjadi pada putranya (Farid) ketika mengikuti perkuliahan yang beliau ampuh.
Saya sedikit mendengar percakapan antara keduanya (prof ali dan ibu farid) bahwa mahasiswa berkacamata itu sudah 3 semester tidak lulus matakuliahnya dan dengan rendah hati dosen berkcamata itu meminta tolong kepadanya supaya memberikan dorongan kepada anaknya agar semangat kuliah, karena sudah banyak ketinggalan tugas-tugas yang sudah diberikan pada minguu-minggu sebelumnya. Mendengar semua itu pastilah hati seorang ibu sedih dan kecewa. Mahasiswa dengan tubuhnya yang lumayan tinggi itu sambil mendegarkan peribincangan keduanya dengan meletakkan kepalanya di atas meja dosen.
Mahasiswa itu adalah kakak angkatku, dari semester 5 aku sering satu kelas sama dia, tapi menurut sepengetahuanku selama satu kelas kakak itu memang jarang masuk kuliah entah kenapa sampai seperti itu, bahkan meskipun ia sudah tidak lulus 3 semester di perkuliahan prof Ali, ia masih tetap saja mengulangi perbuatannnya dengan tidak masuk kuliah sehingga ia mendapat Alpha 3 kali. Namun karena kemuliaan hati seorang guru besar UINSA itu mengampuni masalah yang 3 kali absen, tetapi tetap saja harus mengerjakan semua tugas-tugas yang sudah diberikan dipertemuhan sebelumnya.
Tiba-tiba terputuslah perbincangan pengarang buku Terapi Sholat Bahagia dengan ibu dari salah satu mahasiswa retorika itu, karena pulsanya habis sehingga tidak mencukupi untuk menelponnya kembali. Begitulah pengantar dari mantan Dekan Fakultas Dakwah sebelum memasuki materi perkuliahan.
***
Ketika  aku melihat ke arah dimana Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag duduk. Ku melirik 3 buku yang terletak di atas meja, tapi dari salah satu buku itu saya tidak melihat apa judul dari buku itu, namun saya hanya melihat buku berwarna hijau yang berjudul Doa-Doa keluarga bahagia, karena memang buku itu terletak di paling atas dari 3 tumpukan buku tersebut. Saat melihat buku bergambar laki-laki berkacamata itu dengan berbaju putih dan berkopyah putih saya langsung teringat ketikak saya dan beberapa teman saya menjenguk pengarang buku itu karena sakit akibat kecelakaan saat di jemput oleh salah satu mahasiswanya dengan mengendarai sepeda motor.
Meskipun beliau sakit yang menurut saya itu sakit yang cukup parah, di bagian wajahnya yang rupawan itu terlihat bengkak berwarna hitam, tetapi beliau masih tetap saja semangat memotivasi para mahasiswanya agar bisa menjadi orang-orang yang selalu bersyukur dan tidak mengeluh dengan apa yang terjadi karena apa yang terjadi sudah di tulis sebelum kita terlahir ke dunia. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Haddid [57]: 22
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. Al-Haddid [57]: 22).
Ketika mau pulang dari rumahnya, beliau memberikan buku Doa-Doa Keluarga Bahagia kepada beberapa mahasiswanya yang sudah bersilaturrahim kepada beliau termasuk saya juga mendapat buku itu. Saat itu perasaanku sangat senang, dan saya rasa teman-teman juga merasakan apa yang saya rasakan saat itu meskipun dari perjalanan berangkat menuju rumah beliau hingga pulang di guyur hujan.
Di bawah buku berwarna hijau itu saya juga melihat sekilas buku dengan judul 60 Menit Terapi Shalat Bahagia yang bewarna putih abu-abu. Saat melihat kedua buku tersebut “kenapa ya.. prof Ali kok bawa buku TSB dan Doa-Doa Keluarga Bahagia, jangan-jangan suruh praktek terapi sholat bahagia sambil baca doa-doa, waahh… enak ini biar gak sedih mikirin masalah terus,,, pikirku dalam benakku.
Tiba-tiba dosen dengan rambutnya yang sudah mulai memutih itu bertanya pada salah satu mahasiswa yang duduknya di belakang kira-kira jaraknya 7 meter dari tempat duduk dosen itu, “Zen kamu lihat apa judul buku ini? Saat itu aku hanya mendengar suara zen menjawab pertanyaan prof Ali bahwa laki-laki yang duduk di baris ke 3 dari dari tempat duduk saya itu tidak melihat apa judul buku tersebut, karena memang jaraknya cukup jauh dari tempat duduk zen.
Lalu pengarang buku Ilmu Pidato itu lanjut bertanya pada Nitra yang duduk di samping kanan saya pas, Nit kamu bisa lihat apa judul buku ini, apa judul buku ini? Terima Kasih jawab gadis cantik yang ada di sampingku. Saat itu saya juga berusaha melihat judul buku itu tetapi karena jaraknya cukup jauh jadi tulisan Terima Kasih sebagai judul buku tersebut tidak bisa terlihat secara jelas di mataku.
Terima Kasih adalah judul buku yang ada di depan pengarang buku Ilmu Dakwah itu, lalu Laki-laki kelahiran Lamongan mengambil buku tersebut dari meja yang ada di depannya, beliau memengangnya dengan di tangan kirinya, sambil lalu membuka bukunya dan membacakan pengarang buku tersebut serta menuliskan di papan tulis warna putih dengan Boardmarker warna hitam. Bahwa pengarang buku tersebut adalah JOHN KRALIK. Lalu melanjutkan membaca yang disertai menulis “365 Thank Yous The Year The Simple Act of Daily Gratitude Changed My Life” itulah yang beliau tulis di papan tulis dari buku yang berjudul Terima Kasih.
Ini adalah cerita tentang bagaimana JONH KRALIK sukes karena setiap hari menulis ucapan Terima Kasih. Lalu Fajriyah di suruh membacakan Judul buku yang sudah di tulis prof Ali di papan tulis dalam bentuk bahasa inggris, dan perempuan manis yang berada tepat di belakangku itu membacakannya dengan suara serak-serka malu.
Alumni Pesantren Ihyaul Ulum Gresik itu mengulang membacakan tulisan itu sambil berjalan kedepan dengan senyumnya yang menawan, berhubung tulisan tersebut bahasa Inggris maka beliau mengartikan ke Bahasa Indonesia agar bisa di pahami, apa lagi saya yang belum mahir bahasa inggris. Namun tetap saja yang lupa akan arti dari tulisan itu karena saya ketinggalan untuk mencatatnya, mungkin karena saya kurang focus sehingga saya sering ketinggalan tentang apa yang di sampaikan dosen/ teman-teman.
Tak lama kemudian tiba-tiba ada 5 mahasiswa membuka pintu rungan dan mengucap salam dengan bersamaan. “Assalamu’alaikum” akupun menjawab wa’alaikum salam. Aku juga melihat satu dari kelima mahasiswa yang terlambat itu ada yang mengenakan sandal, lalu saya berkata pada laki-laki ganteng itu“mas jangan pakek sandal gak boleh, sana cari pinjeman dulu, cowok keren itupun menjawab sambil tersenyum manis “iya, aku bawa sepatu kok di dalam tasku.
Dari ke 5 mahasiswa ynag terlambat masuk kelas itu, Prof dengan kebijaksanaannya memberikan hukuman kepada mereka, dan hukuman yang beliau berikan adalah rukuk dengan membaca tabih (Subhanallah) 150 kali kemudian di tambah sujud juga dengan membaca tasbih 150 kali jadi jumlahnya ada 300 bacaan tasbih. Mereka berlima mengambil posisi di pojok depan tepatnya sebelah kanan meja dosen.
Sampailah pada cerita bahwa ada seorang pasien yang mengirim surat kepada dokter yang udah merawatnya sekian tahun yang lalu, pasien tersebut menyatakan dalam suratnya “andaikan tidak engkau tangani penyakit saya, maka saya tidak akan bisa menulis surat ini. Terima Kasih” menerima surat tersebut dokternya merasa senang sekali, karena rasa senang yang di rasakannya ternyata dokter itu mebalas surat tersebut lebih panjang dari surat yang dari pasiennya tadi. “Dokter berkata: ini adalah pasien yang pertama kali sepanjang karier saya yang memberikan apresiasi seperti ini (sepanjang hidup saya).
Prof Ali bertanya kira-kira dokter itu senang gak menerima surat itu, para mahasiswapun menjawab “iya senag”. jadi hanya dengan ucapan terima kasih sudah membuat hati orang senang. Lalu beliau berkata “Saya berperinsip Senyum Manusia adalah Senyum Tuhan.” Jadi intinya jika kita mampu membuat orang lain tersenyum berarti kita sudah membuat Tuhan tersenyum kepada kita. Subhanallah.


Tiba-tiba Penceramah Internasional itu, bernyata pada Nitra kenapa kesakitan tah nit? Iya, jawab ninit dengan wajah memerah dan kesakitan.
Prof Ali: Sakit apa?
Nitra: sakit lambung
Prof Ali: Owww… udah periksa ke dokter?
Nitra: sudah
Prof Ali: di kasih obat apa sama dokter
Nitra: Obat Magh
Prof Ali: Milanta? Apa obat Magh ya..
Nitra: iya
Penyakit lambung itu, penyakit kebanyakan orang. Tapi penyakit lambung tidak bisa disembuhkan seumur hidup, yang bisa hanya nyegah. Dan penyakit lambung itu sangaaaatttt… erat dengan ketegangan. Saya tadi kan periksa gigi, tadi saya bilang Fathur, saya agak terlambat nanti karena saya sakit gigi, inilah pernyataan Prof Ali, tiba-tiba Trisno menyeletuk dari belakang “tapi kok gak terlambat?” celetukan bocah yang bertubuh besar itu membuat satu kelas retorika tertawa serentak.
Dokter yang menangani beliau adalah dokter profesional ia dokter katolik, lalu ketika pertama kali di cabut dan darahnya keluar,  dokter itu bilang: bapak stress, lo kok bapak tahu? Iya, darah kalau orang stress itu rata-rata darahnya begini kental. Kebetulan dokter itu dalam menangani pasien itu sudah puluhan tahun lebih jadi tahu mana darahnya orang yang stress atau bukan.
Dosen teladan nasional ini, ternyata takut terhadap jarum suntik, ungkapnya ketika bercerita di depan mahasiswa retorika “suntik aja takut, apalagi dicabut”. Sambil mengekspresikan suaranya Kreekkk… Kreekk. Ketika gigi ayah dari tujuh anaknya beliau berkata: Ya Allah…gpp gigi saya di cabut asalkan pada saat saya memejamkan mata Engkau datangkan Rasul Mu untuk memandang wajahku. Jadi ketika itu beliau sudah pasrahkan kepada Allah.
Lalu darah itu keluar lagi dan dokternya mengatakan, nah kalau ini bukan darah stress, lalu dosen kelahiran tahun 57 itu menyimpulkan “Sedikit saja kesedihan itu akan mempengaruhi darah kita, jadi tidak ada satu kesedihan yang tidak berpengaruh pada tubuh kita”
Bagaimana dengan orang yang sedih sampai bertahun-tahun? Jadi bagaimana kira-kira bentuk darahnya orang-orang yang sedihnya sampai bertahun-tahun? Tanya dosen Favorit ku pada mahasiswa retorik sambil tertawa. Bencinya kepada orang-orang itu bertahun-tahun bagaiman saya tidak bisa membayangkan.?
Prof Ali, kembali bertanya pada Ulfian, dokternya tadi itu senang apa gak? Jawabnya,  iya senang. tadi yang saya tulis “Senyum Manusia adalah senyum Tuhan” pernyataanya setelah bertanya pada salah satu mahasis berkulit putih itu. Lalu beliau bertanya lagi pada mahasiswanya “ketika dokter tadi itu tersenyum siapa yang tersenyum pertama kali?” jawabnya: Allah. Tanya lagi, Senyum kenapa? Karena ada orang yang menghargai jasa orang, pertanyaan sekaligus pernyataan. Jadi kita menyenangkan orang lain maka Allah pun juga akan menyenangkan kita. Subhanallah. Lalu Allah SWT berkata pada malaikat: Malaikat bukalah pintu-pintu (chanel-chanel) rizki yang masih tertutup itu, Karen ada satu orang yang menyenangkan orang lain. Subhanallah
Sebentar lagi kalian saya suruh menulis, tulis dimana aja, gak bawa laptop? Jangan menyerah, masak gara-gara tidak ada laptop kalian berhenti berkarya. Ungkap pengarang buku Tekhnik Khutbah Jum’at Komunikatif.
Ketika dia gerak jalan, lomba lari (jalan sehat), pernah ikut lomba lari dian? Tanya prof pada Diana. Tidak prof tapi jalan sehat, jawabnya. Kenapa kamu gak ikut lomba lari? Tanya prof kembali. Lalu Dianapun menjawabnya, kegemukan prof. kemudian mahasiswa retorika tertawa meledak mendengar peryataan dari Diana, prof Ali pun juga ikut tertawa. Meskipun yang lain sudah berhennti tertawa tetapi Diana yang mengaku bertubuh gemuk itu masih saja melanjutkan tertawanya sendiri.
Lalu di dalam lomba lari ini, ada teman lomab lari dari pengarang buku terima kasih (John Kralik) itu menunjukkan gubernur, kamu tahu gak gubernur? Itu lo gubernur. sambil menunjukkan tangannya ke depan seakan-akan ada gubernur di depannya. Ayo sekarang kita mendekat ya. Akhirnya ia tahu gubernur itu. Maka ia (John Kralik) itu menulis pada teman yang sudah menunjukkan gubernur tadi. Betapa sepelenya, dia menulis surat “Pertama, terima kasih kamu itu orang penting kok mau lari sama saya, yang kedua terima kasih andaikan aku tidak engkau tunjukkan gubernur itu, mungkin selamanya saya tidak tahu kalau dia gubernur, terima kasih. Sungguh luar biasa sesederhana itupun dia berterima kasih.
Sudah sekian lamanya perkuliahan di mulai, ternyata masih ada satu mahasiswa yang biasa di panggil gundul oleh teman-temannya itu baru datang, dosen yang berhati mulia itu, tidak marah atau menyuruh gundul itu keluar, tetapi beliau hanya memberikan hukum sujud syukur dengan membaca tasbih 150 kali. Subhanallah mulia sekali hati dari Guru Besar UINSA itu.
Di jelaskannya tentang Gratitude oleh dosen berkacamata itu sambil menggaris-garis dibawah tulisan itu dengan jari telunjuknya. Gratitude itu adalah bentuk terima kasih. Sifat nya Allah gratitude suka berterima kasih dan menghargai, yaitu Syakur beliau menulis kata Syakur dengan tulisan arab da boardmarker warna biru tanpa di beri syakal (harokat). Syakur itu artinya Allah itu sang paling menghargai.
Lalu dosen Tekhnik Khitobah 2 ini bertanya pada salah satu mahasiswa yang humoris, Tris kamu sekarang umur berapa? 15 pak. Wahahaaa… orang-orang seisi ruangan itu tertawa serentak mendengar ungkapan Trisno umur 15 tahun. Lalu menjawab lagi 17, eh 20 pak. Anehhh tohh ada orang lupa usianya sendiri ucap prof Ali lucu sehingga ruang kelas semakin ramai.
Misal, masa kecil Trisno 15 tahun, berarti trisno sudah bisa mnulis 15 tahun. Mestinya kamu harus menulis 365 x 15. Kemudian Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Jatim itu, menyuruhku menghitung 365 X 15. Ohh saya bingung karena saya tidak pandai menghitung. Tapi beliau menunjuk HP yang ada di atas kursi sebelah kiri saya. sambil berkata ini ada HP kan? Sayapun langsung mengambil HP itu dan menghitungnya ternyata hailnya 5475. Jangan-jangan gak tau kalau di HP nya ada kalkulatornya..!!! guyon Proffesor itu menimbul gelak tawa.
Saya yakin Tris, jika kamu sudah menulis surat 5475 terima kasih kepada orang lain, maka hidupmu lebih sukses dari pada hari ini. Berarti kamu sudah membuat 5475 tersenyum insyaallah itu udah cukup untuk membuka pintu-pintu rahmatmu. Ucap seorang Trainer itu memotivasi mahasiswanya supaya dapat munulis seperti Jonh Kralik. Sekarang saya Tanya Tris, siapa orang ynag pernah kamu kirim surat dengan ucapan terima kasih? Awalnya Trisno bingung tapi akhirnya ia menjawab ayah dan ibu. Ini adalah salah satu bagian dari cara hidup saya.
Selain Trisno yang ditanya oleh beliau, Azka pun juga di tanya tentang siapa saja yang pernah di ucapkan Terima Kasih. Azka menjawab, Prof Ali, orang tua, ketika membaca biografinya dan setiap menulis selalu dibaca orang tuanya dan ketika di nasehati juga mengucap terima kasih. Mendengar ungkapan Azka aku merasa iri karena saya tidak pernah merasakan seperti itu, apa lagi ketika stiap tulisannya dibaca oleh orang tuanya.
Lalu pak Ali menyuruh Hakim untuk menuliskan di papan tulis Lainsyakartumm La Azidannakum dengan tulisan bahasa Arab, namun Hakim tidak langsung menulis di dapapan tulis karena masih mencari ayat tersebut dalam al-Qur’an yang ada di Hp-nya. Kurang lebih mecapai 2 menit ia masih aja belum menuli ayat itu. Akhirnya Dosen yang bijak itu menyuruh supaya tidak jadi menulis.
Kata Prof berwajah rupawan itu, belum ada orang yangg menafsirkan Lainsyakartum La Azidannakum sedetail itu “If You Always Gratitude”. Dosen teladan itu tiba-tiba menyuruh semuanya untuk berhenti menulis karena tidak sengaja melihat salah atu mahasiswanya mengipat-ngipatkan tangannya dengan menunjukkan kelelahan mencatat, lalu beliau betanya pada Nafis, kenapa sudah capek tah fis? Nafis menjawab, iya pak capek jawab Nafis sambil tertawa. Yadah sekarang berhenti dulu kalau capek, ucap dosen bersepatu hitam itu dengan lembut.
Sambil menunggu Diana sama Ulfian izin ke toilet, Prof Ali sambil bertanya pada Fajriyah tentang sudah mendapat berapa halaman yang menulis. Saya juga sambil melanjutkan tulisanku, ulfian dan Diana pu datang memasuki ruang kelas lalu dosen yang pandai memotivai itu melanjutkan keterangannya yakni jika bersyukur ingatlah jasa orang yang sekecil apapun dan lupakan kesalahan orang sebesar apapun “sambil menunjuk-nunjuk tangannya ke depan”. Lalu meletakkan kedua tangnnya di saku celana ynag sebelah pinggir.
Dalam sholat ada bacaan al-Fatihah atau Alhamdulillah, tujuh ayat yang di ulang-ulang di dalam Al-Qur’an Assab’ul Matani, kemudian prof Ali menyuruh salah satu mahasiswanya ynag bernama Irfan Ilhami untuk membacakan surat al-Fatihah dimulai dari basmalah, lalu laki-laki berkulit putih itupun membaca ayat tersebut sambil menghitung jumlah ayat yang dibacanya. Laki-laki itu mengulang membacanya sampai dua kali bacaan.
Surat al-Fatihah di baca ketika sholat maka harus 7 ayat jika tidak tujuh ayat maka sholatnya tidak sah, jadi jika tujuh ayat maka harus membaca dari basmalah, lalu bagaimana dengan yang membacanya tanpa basmalah? Berarti ketika sampai ayat Ghairil Maghdubi ‘alaihim itu di pisah.
Kata Alhamdulillah di letakkan diawal supaya menjadi manusia  yang berkepribadian Hamdalah, Istri paling bahagia yang punya suami memilki kepribadian Hamdalah. Dan orang ynag paling pelit ialah orang yang pelit penghargaan, maksudnya tidak pernah memberikan penghargaan atau apresiasai kepada orang lain.
Saya lulusan pesantren ketika itu ijazah aya tidal laku, lalu saya diminta untuk mengajar di SMA katolik waktu itu saya hanya di bayar 30 ribu perbulan kalau gak salah, saya belum mendapat pekerjaan dan saya juga belum pegawai negeri, lalu saya menikah, pertama kali yang mengucapkan selamat atas pernikahan saya adalah orang katolikk itu, yang kedua ketika istri saya hamil dia (katolik)betul-betul menjabat tangan saya sambil mengucapkan selamat ya pak, selamat ya.. sangat luar biasa bapak dan ibu. Sampai sekarang saya tidak akan pernah lupa wajah orang itu, saya tidak akan lupa dengan orang itu, walaupun dia beda agama dengan saya. setelah itu saya mendengar “saya baru nikah pak satu bulan yang lalu” langsung saya tanda tangani dan saya ucapakan selamat. Paparan ini merupakan pernyataan dari Prof. Dr. Moh Ali Aziz, M.Ag
Kini telah sampailah pada waktu dimana berakhirnya perkuliahan hari ini, ketika teman-teman pada keluar dari ruang kelas saya masih berada di dalam ruangan tersebut bersama Fajriyah dan Baity saat itu saya lagi membereskan barang-barang saya di dalam tas, lalu saya lari mengejar Ninit dan Mahabbah, aku melihat mereka sudah berada di lantai satu akhirnya saya menambah kecepatan berjalan saya, haha akhirnya saya bisa mengejar mereka berdua.
Aku dan Nitra berbeda tujuan dengan Mahabbah, akhirnya kita berpisah aku dan Nitra berlajan terus menuju gang dosen, berhubung saya lagi mengirim file dari Hp nya ninit ke Hp ku belum seleai akhirnya ninit mengajakku k eke Indomaret agar waktu dalam menntransfer file tersebut lebih lama, aku dan Nitrapun berlajan terus menuju Indomaret. Sepulang dari Indomaret hujan turun membasahi tubuhku dan Nitra, lalu saya berhenti di Warung Ijo untuk berteduh sambil makan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar