Sabtu, 25 April 2015

LION STYLE



Selasa, 21 April 2015, kelas retorika khususnya semester 6 kedatangan seorang host dari TVRI, yang di undang langsung oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. untuk memberikan ilmunya kepada mahasiswa retorika. Ini adalah bukti peduli, cinta dan kasih sayangnya Prof Ali pada mahasiswa retorika, sehingga disetiap hari selasa selalu mendatangkan orang-orang hebat, salah satunya ialah bapak Addin Chadiri selaku host TVRI yang sudah mencapai sekitar 30 tahun berprofesi sebagai seorang host.
Sebelum bapak Addin Chadiri lanjut menjelaskan tentang bagaimana menjadi seorang host/presenter yang baik, beliau terlebih dahulu mengajari kita tentang bagaimana cara mencoba microphone yang benar sebelum perform, bahwa mencoba microphone yang benar ialah dengan cara di ketuk mic tersebut dan tidak boleh ditiup karena di dalam micropon terdapat kain selaput tipis atau kalau seorang gadis identik dengan selaput perawannya. Jadi jika microphone itu di tiup khawatir selaput itu akan rusak (robek), sehingga mempengaruhi kwalitas suara micropon tersebut.
Kedatangan bapak Addin Chadiri merupakan silaturrahim yang kedua dengan mahasiswa retorika, namun pada silaturrahim yang pertama mahasiswa retorika semester 6 mendatangi langsung ke kediaman beliau dan disana juga di ajari bagaimana menjadi seorang presenter/host yang baik, selain itu juga di setelkan beberapa rekamannya selama menjadi host dan ketika bernyanyi dengan lagu sepanjang jalan kenangan.
Menurut beliau nyanyian sangat terkait dengan host, karena seseorang yang pandai bernyanyi mampu berucap (bertutur kata) dengan penuh keindahan, serta dapat  mengatur kata demi kata, kalimat demi kalimat yang akan ia keluarkan sehingga melahirkan suatu lagu yang enak di dengar. Contohnya yang masih di siarkan di SCTV ketika acara Inbox pagi dalam sesi tebak judul lagu. Ketika itu Putri Sangkar membacakan teksnya itu tidak berlagu misalnya, “Sepanjang jalan kenangan kita selalu bergandeng tangan”  jika seseorang tidak mempunyai referensi maka ia tidak akan bisa menjawab tapi jika sesorang itu tahu dan mempunyai referensi tentang lagu itu meskipun di sampaikan tanpa berlagu maka pastinya ia bisa menebak judul lagu tersebut bahkan juga bisa menyanyikannya.
Kaitannya dengan segenap presenter sangat terkait. Kalau seseorang itu tidak bisa nyanyi  tentu orang yang satu dengan orang yang lain itu akan berbeda ketika perform. Kisah nyata bahwa ada segenap presenter, presenter A bisa nyanyi sedangkan presenter B tidak bisa nyanyi kemudian dari segenap presenter (penyiar, presenter, host, pewawancara, pembawa acara dll) di suruh nyanyi bersama-sama, namun apa yang dirasakan si B ketika semuanya bernyanyi? Ketika itu si B merasa minder karena tidak bisa bernyanyi sendiri. Jadi memang benar bahwa pandai bernyanyi sangat berpengaruh dalam perpform baik untuk diri sendiri maupun pada audiens/pemirsa/penonton. Karena berbicara itu juga ada naik turunnya (intonasi).
Contoh ketika berbicara “selamat siang permirsa, sampai jumpa kembali bersama saya” kalimat ini disampaikan dengan nada monoton maka tidak akan ada orang yang suka mendengarkannya karena tidak enak di dengar oleh telinga. Namun jika disampaikan dengan berintonasi maka kata-kata tersebut akan lebih indah di dengar.
Meskipun suara bapak Addin Chadiri belum pulih sempurna seperti dulu, tapi suara beliau masih tetap merdu dan enak di dengar oleh telinga. Suara yang beliau miliki sekarang tidak sedikitpun menghilangkan semangat beliau untuk mengamalkan ilmunya kepada mahasiswa retorika.
“Saya sangat bersyukur dan senang sekali karena diberi kesempatan untuk berbagi ilmu dengan anda semua tentang apa public speaking atau bagaimana menjadi host yang handal.” Inilah ungkapan yang disampaikan oleh host TVRI tersebut ketika mengisi pelajaran di kelas retorika.
Bapak Addin Chadiri mengalami gangguan pada suara sudah mencapai 5 bulan seperti yang di alami Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. namun Alhamdulillah setelah mencapai ke 6 bulan prof Ali bisa sembuh dan kembali normal suaranya. Semoga saja suara bapak Addin Chadiri juga segera kembali pulih. Amin.. berhubung sekarang suara bapak Addin Chadiri masih belum pulih betul sehingga harus menggunakan microphone saat menyampaikan materi tentang host. Supaya bisa terdengar jelas tanpa mengeraskan suaranya.
Di dalam menggunakan microphone juga ada tekhniknya, misalnya ketika perform jika microphone nya itu tidak seberapa mahal maka jaraknya tidak boleh terlalu jauh dengan mic tersebut, jika yang digunakan microphone-microphne seperti ynag digunakan yang digunakan host/presenter televisi maka jaraknya cukup 1 jengkal, namun jika microphone yang digunakan dalam broadcast yang harganya sampai mencapai berjuta-juta maka jaraknya microphone dengan kita agak jauh atau kurang lebih 3 jengkal. Jadi pandai-pandailah menyiasati karakter microphone, seberapa jarak yang harus ditempuh supaya modulasi suara bisa di dengar dengan enak.
Untuk melatih suara (olah vocal), bawalah naskah lalu berlatihlah di pantai, dengan mengambil jarak kurang lebih sampai 150 M. lalu mintalah di dengarkan kepada teman kita, bahwa suara yang kita lepaskan sudah kedengaran dengan jelas apakah belum. Jika artikulasinya A.I.U.E.O belum terdengar jelas berarti suara masih perlu dikeraskan lagi sehingga jelaslah artikulasi tersebut meskipun di dengarkan dari jarak 150 M dan ada suara ombak yang sangat kencang. Beeeerrrrrrrr…… bwweeeerrrr…. Bunyi ombak yang di contohkan oleh host TVRI itu.
Tidak semua orang dapat berbicara dengan dengan jelas dan lancar biasanya peyebabnya karena ada gangguan pada rongga mulut, struktur gigi tidak rata, gangguan itu akan mempengaruhi kelancaran berbicara, namun semua itu akan bisa diatasi dengan cara latihan yang sungguh-sungguh. Tidak ada seorangpun dalam berbicara atau bertutur kata itu sama persis dalam pelafalan A.I.U.E.O nya, baik menggunakan irama/tanpa irama, atau dalam tasrifnya.
Dalam berbicara harus mau membuka mulut kita, supaya artikulasinya jelas. Namun ada juga orang yang ketika berbicara tanpa membuka mulut lebar-lebar tapi cukup jelas artikulasinya dalam berbicara. Oleh karena itu Endang Estorina mengatakan banyak-banyaklah berlatih A-I-U-E-O karena itu akan berpengaruh rongga mulut, dan berbicara keras juga akan meloggarkan pita suara kita.
Apa yang dulu dilakukan bapak Addin Chadiri ketika ada waktu senggang…? Ialah beliau pergi ke tempat karaoke untuk berlatih vocal bahkan kalau latihan beliau sampai dengan 25 lagu, super sekali. Sebelum suara bapa Addin mengalami gangguan beliau juga bisa bernyanyi dengan menirukan Charles. Ini bukanlah maksud menyombongkan diri tapi salah satu cara beliau dalam memotivasi mahasiswa retorika.
Syukur Alhamdulillah meskipun bapak Addin Chadiri mengalami gangguan suara. Tapi atas izin Allah SWT beliau bisa perform dengan baik disamping memang shonsistemnya yang bagus beliau juga pintar dalam menggunakan tekhnik-teknik bicara yang baik sehingga tidak terlihatlah suara yang serak namun hanya terdengar suara yang  sebagaimana bisanya seperti tanpa mengalami gangguan suara. Sehingga Alhamdulillah tidak ada sedikitpun komplenan dari masyarakat tentang suara bapak Addin Chadiri. Subhanalllah itulah kuasa Allah SWT. Ketika itu beliau perform di Masjid Agung Surabaya dalam acara Harlah PMII pada 17 April 2015 yang di hadiri oleh bapak Presiden Joko Widodo dan lain-lain. Yang di siarkan langsung di TV9. Tapi selesai beliau perform sauranyapun kembali serak lagi.
Sesuai yang disampaikan bapak Addin Chadiri kemaren pada selasa, 22 April 2015. Bahwa pada tanggal 24 nanti ada acara dokter bedah dan pada tanggal 25 nya juga ada acara manten dan disitu beliau perform meskipun suaranya belum pulih betul. Jadi kita harus pandai-pandai menyiasati bagaimana karakter microphone, bagaimana cara yang harus kita lakukan, bagaiman mulut kita ketika berbicara (cara berbicara) intinya kita harus punya kepekaan bukan kepekkaan. Beliau mengulangi kata kepekaan hingga 2 kali. Bahwa bukan kepekkaan tapi kepekaan.
Untuk mengikuti seleksi menjadi seorang host/presenter salah satu syarat yang harus dipenuhi ialah wajah harus enak di pandang atau istilah lainnya ialah cantik dan ganteng. Atau bisa juga dikatakan dengan Camera Face. Jika itu sudah terpenuhi maka tidak terlalu sulit untuk menjadi seorang presenter televisi meskipun suara kurang mendukung. Karena yang dilihat pertama dalam televisi ialah wajah.
Ada seseorang yang enak suaranya pinter dalam berbicara (berkomunikasi) namun karena wajah kurang mendukung sehingga ketika tampil di televisi 1 sampai 2 kali masih boleh tampil tapi ketika yang ke 3 kali ia tidak boleh tampil karena hanya persoalan wajah. Ada juga seseorang yang tidak enak suaranya (sengau), tapi wajahnya cantik, putih dll. Ia menjadi populer dimana-mana. Jadi intinya wajah sangat berpengaruh untuk menjadi seorang host. Karena memang kadang-kadang pimpinan broadcast itu berbuat sesuai kewenangannya tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Selain dalam segi wajah suara juga harus bagus. Ada seoarng yang ikut seleksi ia juara lomba da’I da’iyah wajahnya sudah memenuhi syarat tapi suaranya cempreng sehingga tidak lulus seleksi. Berbicara harus di atur dan di olah terlebih dahulu tidak asal berbicara supaya bisa di dengar dengan indah.
Seseorang boleh meniru gaya suara muballigh yang lain tapi harus konsisten. Tidak boleh berubah-ubah misalnya, sekarang tampil prima, bulan depan tidak. Maka itu akan hancur karena suara yang dibuat-buat tidak akan bisa mempertahankan konsistensinya.
Pernafasan yang paling baik di gunakan ketika berbicara ialah pernafasan perut. Caranya hirup atau tahan lewat hidung kemudian di keluarkan lewan mulut. Ketika menghirup perut di tarik dan ketika di keluarkan maka perut di kembungkan. Jika sudah terbiasa maka ketika kita berbicara perut itu secara otomatis sudah bermain sendiri. Maksudnya bermain ialah ketika bernafas sudah biasa menggukan pernafasan perut. Bahwa menggunakan pernafasan perut akan mengeluarkan suara orsinil yang bagus dan mengeluarkan modulasi yang luas. Namun jika pernafaan hidung akan mengganggu ketika kita berbicara seperti terlihat menggos-menggos.
Menurut bapak Addin Chadiri, bagi laki-laki suara akan lebih indah jika suaranya besar atau ngebas beda dengan perempuan tidak perlu ngebas seperti suara cowok, yakni tetap dengan oriinilitas seperti suara yang di miliki tapi harus di olah dengan sebaik-baiknya. Misalnya kalau laki-laki orangnya ganteng tinggi besar dll. Tapi suaranya seperi perempuan (banci), karena yang seperti itu akan mempengaruhi esensi kita sebagai seorang laki-laki.
Sebagian pada sepakat bahwa seseorang yang mempunyai cacat fisik sangat tidak memungkinkan untuk tampil sebagai host. Terutama cacat fisik di bagian wajah karena itu akan sangat mengganggu konsentrasi penonton atau pemirsa. Beda dengan cacat kaki, seseorang bisa bertutur kata yang baik, lucu, tidak mengganggu konsentrasi pemirsa serta menarik dalam berbicara atau menarik dipandang mata sehingga meskipun cacat kaki tidak terlalu berpengaruh.
Seorang host harus sudah mempunyai kesiapan jasmani maupun rohani. Suka berpakaian rapi, bersih, harum dan tidak terlalu norak. Jadi kita sebagai cahost (calon host) harus bisa membiasakan diri berpakaian rapi. Karena ada seorang narasumber ketika perform baunya tidak enak sehingga mengganggu orang lain.Yang paling aneh ialah ada seorang istri yang mempunyai suami, yang mana bau suaminya itu sangat tidak enak, kecut, puuwwwaaaahit dll. Tapi si istri tersebut sangat suka dengan bau suami yang seperti itu. Bahkan tidak suka dengan bau parfum yang harum.
Untuk menjadi seorang host yang handal, baik dan juga seperti halnya host-host yang sekarang banyak muncul di televisi-televisi swasta. Bahwa sebagian besar host di televisi-televisi swasta sekarang itu selebritis, aktris, actor, bintang film, bintang sinetron yang notabene itu sistemnya sebagian besar mereka tidak pernah belajar seperti apa yang kita pelajari. Tetapi mereka berangkat karena mereka sebagai seorang Public Vigur yang sudah di kenal oleh masyarakat. Kemudian mereka sudah mampu berbicara dihadapan Public, keberanian udah ada, mental sudah kuat, wawasan sudah bagus dan luas.
Karena mereka saya kira juga banyak pengalaman-pengalaman sehingga keberanian mereka tampil itu sudah tidak ada persoalan lagi. Ini menurut mereka. Ketika mengatakan kata “Ini menurut mereka” bapak Addin mengulangnya sampai dua kali sebagai penegasan kata.
Jika presenter-presenter yang berangkat karena mereka sebagai seorang Public Vigur dll. Maka wajah tidak menjamin yakni tidak berpengaruh. Yang penting ia bisa menghibur penonton. Misalnya seperti para artis atau aktris dan lainnya yang wajahnya tidak ganteng atau tidak cantik. Karena tidak mungkin wajah yang pas-pasan atau bukan camera face berangkat dari disiplin ilmu yang belajar kemudian ia ikut seleksi di televisi tentu tidak akan bisa masuk seleksi atau tidak akan bisa tampil di televisi.
Hal ini bukan menghina atau meremehkan, karena memang media televisi ynag sangat konsen untuk bagaimana menciptakan seorang host yang tidak keluar dari koridor-koridor teladan, etika dan sebagainya.
Kembali pada persoalan pokok yakni bagaimana menjadi seorang host/presenter atau kalau dulu dikenal dengan pewawancara, presenter atau bisa juga disebut dengan pembawa acara. Istilah host muncul hanya baru-baru saja. Kalau dulu host itu hospos, hospek dll.
Menjadi seorang host/presenter di televise tidak semudah berbicara di radio yang tidak menampakkan wajahnya, jadi untuk tampil di televisi diperlukan latihan yang sungguh-sungguh dan persiapan yang sangat matang baik cara berbicara, cara menatap kamera, cara menggunakan microphone yag benar, dan juga penampilan yang menarik dll.
 Seseorang yang tidak pernah atau tidak terbiasa tampil di televisi tidak akan bagus bahkan bisa memalukan meskipun ia pintar bahkan cerdas. Karena ia belum pernah tampil di televisi sehingga ragu-ragu dalam menyampaikan yakni tidak bisa meyakinkankan pemirsa atau audience terhadap apa yang disampaikan, karena ia belum tahu bagaimana cara menatap kamera, pandangannya tidak focus dan kemana-mana dan bagaiman ekspresi ketika menyampaikan.
Seorang audience akan mudah terpengaruh dan mengikuti sesuai apa yang kita sampaikan salah satunya ialah bagaimana cara kita menyampaikan kepada mereka serta bagaimana ekspresi ketika kita menyampaikan informasi tersebut.
Berbeda dengan seseorang yang sudah biasa tampil di televisi, ia akan mampu menguasai audience dan sudah bisa menapa camera dengan baik, focus, konsentrasi yakni pandangannya tidak kabur kemana-mana.
Bapak Addin Chadiri sudah memberikan beberapa panduan menjadi seorang host yaitu:
Persiapan yang diperlukan:
1.      Kesehatan fisik atau jasmani (maaf tidak cacat fisik)
2.      Materi yang akan disampaikan disesuaikan dengan audience (tingkat kecerdasan, profesi dsb)
3.      Berpakaian rapi, bersih, pantas serta tidak terlalu norak
4.      Berlatih berbicara didepan kaca sebelum tampil ditelevisi (bagi pembicara pemula)
5.      Hadir minimal 30 menit sebelum tampil untuk orientasi medan dan pengarah seperlunya dari produser TV
Syarat menjadi penyiar/host dalam segi berbicara yaitu:
1.    Mampu bertuturkata dengan baik
2.    Enak di dengar
3.    Mudah di mengerti
4.    Artikulainya dapat didengar dengan jelas
5.    Dan lain-lain
Setiap orang pasti berbeda dalam bertuturkata ada yang enak dan ada juga yang tidak enak, biasanya perbedaan itu terlihat dari:
1.      Cara berbicara
2.      Nada suara
3.      Menggunakan intonasi atau monoton
4.      Modulasi suara
5.      Bahasa yang digunakan ketika berbicara
6.      Dan lain-lain
Bapak Addin Chadiri juga sudah memberikan beberapa acuan mengoptimalkan suara, sesuai dengan yang diberikan oleh beliau yaitu:
Alat Pernafasan:
Terdiri atas :
1.  Pharynx atau hulu kerongkongan
2.  Larynx atau pangkal tenggorokkan
3.  Trachea atau batang tenggorok
4.  Lungs atau paru-paru
5.  BronchIal passages atau lIntasan tenggorok
6.  DIapraghm atau diafragma,
    Sekat rongga badan antara dada dan perut
PROBLEMATIKA SUARA
Dalam menyarakan sesuatu para penyiar radio atau televisi dan pembawa acara seringkali dihadapkan pada 3 persoalan :
1.      Problematika kualitas suara, meliputi:
·         Suara parau
·         Suara tipis
·         Suara pecah
2.      Problematika penyuaraan
·         Monoton
·         Miskin nada
·         Singsong
·         Pola akhiran
·         Menderu
3.      Probematika pernapasan
·         Suara berdesah nafas
·         Suara tanpa daya
Paparan diatas ini adalah beberapa kutipan dari ringkasan bapak Addin Chadiri.
Janganlah mengingat-ingat kesalahan awal yang pernah kita lakukan Karena itu membuat kita tidak focus dan akan menkacaukan  perform kita.
Selanjutnya setelah bapak Addin Chadiri menjelaskan bagaimana menjadi seorang presenter/host yang baik, lalu beliau menyuruh satu-persatu dari mahasiswa retorika untuk mempraktekkan di depan. Karena Diana Cholidah menyampaikan suatu pertanyaan yang berkaitan dengan host kepada bapak Addin maka Diana lah yang pertama kali disuruh mempraktekkan ke depan.
Ketika Diana mempraktekkan ke depan sebenarnya suara Diana sudah enak, namun saying sekali saat itu Diana masih kurang focus dalam menyampaikan, beda dengan Azka Azkiyatul Khilmiah, Azka adalah salah satu mahasiswi retorika yang dikenal dengan kecerdasannya serta di senangi dosen. Ketika itu Azka mempraktekkan menjadi seorang host dengan baik, focus dan sudah memenuhi beberapa syarat menjadi host namun suaranya masih kurang besar.
Lalu sampailah pada giliran saya praktek ke depan, saat itu saya dari awal sampai akhir tidak focus sama sekali dalam menyampaikan. Sehingga kacaulah semuanya, ketika itu saya sangat bersedih karena saya merasa pasti itu sudah mengecewakan dosen favorit saya yaitu Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. saya tidak tahu kenapa saya sampai seperti itu, mungkin itu semua karena saya mendapat telephone dari orang tau saya dengan memberikan kabar yang tidak enak, sehingga terganggulah konsentrasi saya dan didalam pikiran saya hanya ada masalah, masalah masalah itu.
Sampai akhir kuliahpun saya masih belum focus karena yang ada dalam pikiran saya hanyalah kabar itu, saya berusaha supaya bisa focus dalam perkuliahan saya, tapi ketika saya memaksakan untuk focus, ternyata bukan tambah foku tetapi saya tambah mengingat-ingat kata-kata yang sudah di sampaikan oleh orang tua saya. dan kata-kata itu masih belum bisa terhapus dalam pikiran saya hinggi saat ini. Saya berharap semuanya akan segera berlalu dengan baik. 

Pesan yang disampaikan bapak Addin Chadiri “Jangan Sampai ada luluan dari Dakwah yang pernah menerima ilmu dari saya ada yang LION STILE.
Sekianlah tulisan yang dapat saya tulis semoga bermanfaat buat kita semua, Aminn…

1 komentar: