Selasa,
21 April 2015, kelas retorika khususnya semester 6 kedatangan seorang host dari
TVRI, yang di undang langsung oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. untuk
memberikan ilmunya kepada mahasiswa retorika. Ini adalah bukti peduli, cinta
dan kasih sayangnya Prof Ali pada mahasiswa retorika, sehingga disetiap hari selasa
selalu mendatangkan orang-orang hebat, salah satunya ialah bapak Addin Chadiri
selaku host TVRI yang sudah mencapai sekitar 30 tahun berprofesi sebagai seorang
host.
Sebelum
bapak Addin Chadiri lanjut
menjelaskan tentang bagaimana menjadi seorang host/presenter yang baik, beliau
terlebih dahulu mengajari kita tentang bagaimana cara mencoba microphone yang
benar sebelum perform, bahwa mencoba microphone yang benar ialah dengan cara di
ketuk mic tersebut dan tidak boleh ditiup karena di dalam micropon terdapat kain
selaput tipis atau kalau seorang gadis identik dengan selaput perawannya. Jadi
jika microphone itu di tiup khawatir selaput itu akan rusak (robek), sehingga
mempengaruhi kwalitas suara micropon tersebut.
Kedatangan
bapak Addin Chadiri merupakan silaturrahim yang kedua dengan mahasiswa
retorika, namun pada silaturrahim yang pertama mahasiswa retorika semester 6
mendatangi langsung ke kediaman beliau dan disana juga di ajari bagaimana
menjadi seorang presenter/host yang baik, selain itu juga di setelkan beberapa
rekamannya selama menjadi host dan ketika bernyanyi dengan lagu sepanjang jalan
kenangan.
Menurut
beliau nyanyian sangat terkait dengan host, karena seseorang yang pandai
bernyanyi mampu berucap (bertutur kata) dengan penuh keindahan, serta dapat mengatur kata demi kata, kalimat demi kalimat
yang akan ia keluarkan sehingga melahirkan suatu lagu yang enak di dengar.
Contohnya yang masih di siarkan di SCTV ketika acara Inbox pagi dalam sesi
tebak judul lagu. Ketika itu Putri Sangkar membacakan teksnya itu tidak berlagu
misalnya, “Sepanjang jalan kenangan kita selalu bergandeng tangan” jika seseorang tidak mempunyai referensi maka
ia tidak akan bisa menjawab tapi jika sesorang itu tahu dan mempunyai referensi
tentang lagu itu meskipun di sampaikan tanpa berlagu maka pastinya ia bisa
menebak judul lagu tersebut bahkan juga bisa menyanyikannya.
Kaitannya
dengan segenap presenter sangat terkait. Kalau seseorang itu tidak bisa nyanyi tentu orang yang satu dengan orang yang lain
itu akan berbeda ketika perform. Kisah nyata bahwa ada segenap presenter,
presenter A bisa nyanyi sedangkan presenter B tidak bisa nyanyi kemudian dari
segenap presenter (penyiar, presenter, host, pewawancara, pembawa acara dll) di
suruh nyanyi bersama-sama, namun apa yang dirasakan si B ketika semuanya
bernyanyi? Ketika itu si B merasa minder karena tidak bisa bernyanyi sendiri.
Jadi memang benar bahwa pandai bernyanyi sangat berpengaruh dalam perpform baik
untuk diri sendiri maupun pada audiens/pemirsa/penonton. Karena berbicara itu
juga ada naik turunnya (intonasi).
Contoh
ketika berbicara “selamat siang permirsa, sampai jumpa kembali bersama saya”
kalimat ini disampaikan dengan nada monoton maka tidak akan ada orang yang suka
mendengarkannya karena tidak enak di dengar oleh telinga. Namun jika
disampaikan dengan berintonasi maka kata-kata tersebut akan lebih indah di
dengar.
Meskipun
suara bapak Addin Chadiri belum pulih sempurna seperti dulu, tapi suara beliau
masih tetap merdu dan enak di dengar oleh telinga. Suara yang beliau miliki
sekarang tidak sedikitpun menghilangkan semangat beliau untuk mengamalkan
ilmunya kepada mahasiswa retorika.
“Saya
sangat bersyukur dan senang sekali karena diberi kesempatan untuk berbagi ilmu
dengan anda semua tentang apa public speaking atau bagaimana menjadi host yang
handal.” Inilah ungkapan yang disampaikan oleh host TVRI tersebut ketika
mengisi pelajaran di kelas retorika.
Bapak
Addin Chadiri mengalami gangguan pada suara sudah mencapai 5 bulan seperti yang
di alami Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. namun Alhamdulillah setelah mencapai ke
6 bulan prof Ali bisa sembuh dan kembali normal suaranya. Semoga saja suara bapak
Addin Chadiri juga segera kembali pulih. Amin.. berhubung sekarang suara bapak
Addin Chadiri masih belum pulih betul sehingga harus menggunakan microphone saat
menyampaikan materi tentang host. Supaya bisa terdengar jelas tanpa mengeraskan
suaranya.
Di
dalam menggunakan microphone juga ada tekhniknya, misalnya ketika perform jika
microphone nya itu tidak seberapa mahal maka jaraknya tidak boleh terlalu jauh
dengan mic tersebut, jika yang digunakan microphone-microphne seperti ynag
digunakan yang digunakan host/presenter televisi maka jaraknya cukup 1 jengkal,
namun jika microphone yang digunakan dalam broadcast yang harganya sampai
mencapai berjuta-juta maka jaraknya microphone dengan kita agak jauh atau
kurang lebih 3 jengkal. Jadi pandai-pandailah menyiasati karakter microphone,
seberapa jarak yang harus ditempuh supaya modulasi suara bisa di dengar dengan
enak.
Untuk
melatih suara (olah vocal), bawalah naskah lalu berlatihlah di pantai, dengan
mengambil jarak kurang lebih sampai 150 M. lalu mintalah di dengarkan kepada
teman kita, bahwa suara yang kita lepaskan sudah kedengaran dengan jelas apakah
belum. Jika artikulasinya A.I.U.E.O belum terdengar jelas berarti suara masih
perlu dikeraskan lagi sehingga jelaslah artikulasi tersebut meskipun di
dengarkan dari jarak 150 M dan ada suara ombak yang sangat kencang.
Beeeerrrrrrrr…… bwweeeerrrr…. Bunyi ombak yang di contohkan oleh host TVRI itu.
Tidak
semua orang dapat berbicara dengan dengan jelas dan lancar biasanya peyebabnya
karena ada gangguan pada rongga mulut, struktur gigi tidak rata, gangguan itu
akan mempengaruhi kelancaran berbicara, namun semua itu akan bisa diatasi
dengan cara latihan yang sungguh-sungguh. Tidak ada seorangpun dalam berbicara
atau bertutur kata itu sama persis dalam pelafalan A.I.U.E.O nya, baik
menggunakan irama/tanpa irama, atau dalam tasrifnya.
Dalam
berbicara harus mau membuka mulut kita, supaya artikulasinya jelas. Namun ada
juga orang yang ketika berbicara tanpa membuka mulut lebar-lebar tapi cukup
jelas artikulasinya dalam berbicara. Oleh karena itu Endang Estorina mengatakan
banyak-banyaklah berlatih A-I-U-E-O karena itu akan berpengaruh rongga mulut,
dan berbicara keras juga akan meloggarkan pita suara kita.
Apa
yang dulu dilakukan bapak Addin Chadiri ketika ada waktu senggang…? Ialah
beliau pergi ke tempat karaoke untuk berlatih vocal bahkan kalau latihan beliau
sampai dengan 25 lagu, super sekali. Sebelum suara bapa Addin mengalami
gangguan beliau juga bisa bernyanyi dengan menirukan Charles. Ini bukanlah
maksud menyombongkan diri tapi salah satu cara beliau dalam memotivasi
mahasiswa retorika.
Syukur
Alhamdulillah meskipun bapak Addin Chadiri mengalami gangguan suara. Tapi atas
izin Allah SWT beliau bisa perform dengan baik disamping memang shonsistemnya
yang bagus beliau juga pintar dalam menggunakan tekhnik-teknik bicara yang baik
sehingga tidak terlihatlah suara yang serak namun hanya terdengar suara
yang sebagaimana bisanya seperti tanpa
mengalami gangguan suara. Sehingga Alhamdulillah tidak ada sedikitpun komplenan
dari masyarakat tentang suara bapak Addin Chadiri. Subhanalllah itulah kuasa Allah
SWT. Ketika itu beliau perform di Masjid Agung Surabaya dalam acara Harlah PMII
pada 17 April 2015 yang di hadiri oleh bapak Presiden Joko Widodo dan
lain-lain. Yang di siarkan langsung di TV9. Tapi selesai beliau perform
sauranyapun kembali serak lagi.
Sesuai
yang disampaikan bapak Addin Chadiri kemaren pada selasa, 22 April 2015. Bahwa
pada tanggal 24 nanti ada acara dokter bedah dan pada tanggal 25 nya juga ada
acara manten dan disitu beliau perform meskipun suaranya belum pulih betul.
Jadi kita harus pandai-pandai menyiasati bagaimana karakter microphone,
bagaimana cara yang harus kita lakukan, bagaiman mulut kita ketika berbicara
(cara berbicara) intinya kita harus punya kepekaan bukan kepekkaan. Beliau
mengulangi kata kepekaan hingga 2 kali. Bahwa bukan kepekkaan tapi kepekaan.
Untuk
mengikuti seleksi menjadi seorang host/presenter salah satu syarat yang harus
dipenuhi ialah wajah harus enak di pandang atau istilah lainnya ialah cantik
dan ganteng. Atau bisa juga dikatakan dengan Camera Face. Jika itu sudah
terpenuhi maka tidak terlalu sulit untuk menjadi seorang presenter televisi
meskipun suara kurang mendukung. Karena yang dilihat pertama dalam televisi
ialah wajah.
Ada
seseorang yang enak suaranya pinter dalam berbicara (berkomunikasi) namun
karena wajah kurang mendukung sehingga ketika tampil di televisi 1 sampai 2
kali masih boleh tampil tapi ketika yang ke 3 kali ia tidak boleh tampil karena
hanya persoalan wajah. Ada juga seseorang yang tidak enak suaranya (sengau),
tapi wajahnya cantik, putih dll. Ia menjadi populer dimana-mana. Jadi intinya
wajah sangat berpengaruh untuk menjadi seorang host. Karena memang
kadang-kadang pimpinan broadcast itu berbuat sesuai kewenangannya tanpa memikirkan
perasaan orang lain.
Selain
dalam segi wajah suara juga harus bagus. Ada seoarng yang ikut seleksi ia juara
lomba da’I da’iyah wajahnya sudah memenuhi syarat tapi suaranya cempreng
sehingga tidak lulus seleksi. Berbicara harus di atur dan di olah terlebih
dahulu tidak asal berbicara supaya bisa di dengar dengan indah.
Seseorang
boleh meniru gaya suara muballigh yang lain tapi harus konsisten. Tidak boleh
berubah-ubah misalnya, sekarang tampil prima, bulan depan tidak. Maka itu akan
hancur karena suara yang dibuat-buat tidak akan bisa mempertahankan
konsistensinya.
Pernafasan
yang paling baik di gunakan ketika berbicara ialah pernafasan perut. Caranya
hirup atau tahan lewat hidung kemudian di keluarkan lewan mulut. Ketika
menghirup perut di tarik dan ketika di keluarkan maka perut di kembungkan. Jika
sudah terbiasa maka ketika kita berbicara perut itu secara otomatis sudah
bermain sendiri. Maksudnya bermain ialah ketika bernafas sudah biasa menggukan
pernafasan perut. Bahwa menggunakan pernafasan perut akan mengeluarkan suara
orsinil yang bagus dan mengeluarkan modulasi yang luas. Namun jika pernafaan
hidung akan mengganggu ketika kita berbicara seperti terlihat menggos-menggos.
Menurut
bapak Addin Chadiri, bagi laki-laki suara akan lebih indah jika suaranya besar
atau ngebas beda dengan perempuan tidak perlu ngebas seperti suara cowok, yakni
tetap dengan oriinilitas seperti suara yang di miliki tapi harus di olah dengan
sebaik-baiknya. Misalnya kalau laki-laki orangnya ganteng tinggi besar dll.
Tapi suaranya seperi perempuan (banci), karena yang seperti itu akan
mempengaruhi esensi kita sebagai seorang laki-laki.
Sebagian
pada sepakat bahwa seseorang yang mempunyai cacat fisik sangat tidak
memungkinkan untuk tampil sebagai host. Terutama cacat fisik di bagian wajah
karena itu akan sangat mengganggu konsentrasi penonton atau pemirsa. Beda
dengan cacat kaki, seseorang bisa bertutur kata yang baik, lucu, tidak
mengganggu konsentrasi pemirsa serta menarik dalam berbicara atau menarik
dipandang mata sehingga meskipun cacat kaki tidak terlalu berpengaruh.
Seorang
host harus sudah mempunyai kesiapan jasmani maupun rohani. Suka berpakaian
rapi, bersih, harum dan tidak terlalu norak. Jadi kita sebagai cahost (calon
host) harus bisa membiasakan diri berpakaian rapi. Karena ada seorang
narasumber ketika perform baunya tidak enak sehingga mengganggu orang lain.Yang
paling aneh ialah ada seorang istri yang mempunyai suami, yang mana bau
suaminya itu sangat tidak enak, kecut, puuwwwaaaahit dll. Tapi si istri
tersebut sangat suka dengan bau suami yang seperti itu. Bahkan tidak suka
dengan bau parfum yang harum.
Untuk
menjadi seorang host yang handal, baik dan juga seperti halnya host-host yang
sekarang banyak muncul di televisi-televisi swasta. Bahwa sebagian besar host
di televisi-televisi swasta sekarang itu selebritis, aktris, actor, bintang
film, bintang sinetron yang notabene itu sistemnya sebagian besar mereka tidak
pernah belajar seperti apa yang kita pelajari. Tetapi mereka berangkat karena
mereka sebagai seorang Public Vigur
yang sudah di kenal oleh masyarakat. Kemudian mereka sudah mampu berbicara
dihadapan Public, keberanian udah
ada, mental sudah kuat, wawasan sudah bagus dan luas.
Karena
mereka saya kira juga banyak pengalaman-pengalaman sehingga keberanian mereka
tampil itu sudah tidak ada persoalan lagi. Ini menurut mereka. Ketika
mengatakan kata “Ini menurut mereka” bapak Addin mengulangnya sampai dua kali
sebagai penegasan kata.
Jika
presenter-presenter yang berangkat karena mereka sebagai seorang Public Vigur dll. Maka wajah tidak
menjamin yakni tidak berpengaruh. Yang penting ia bisa menghibur penonton.
Misalnya seperti para artis atau aktris dan lainnya yang wajahnya tidak ganteng
atau tidak cantik. Karena tidak mungkin wajah yang pas-pasan atau bukan camera face berangkat dari disiplin ilmu
yang belajar kemudian ia ikut seleksi di televisi tentu tidak akan bisa masuk
seleksi atau tidak akan bisa tampil di televisi.
Hal
ini bukan menghina atau meremehkan, karena memang media televisi ynag sangat
konsen untuk bagaimana menciptakan seorang host yang tidak keluar dari
koridor-koridor teladan, etika dan sebagainya.
Kembali
pada persoalan pokok yakni bagaimana menjadi seorang host/presenter atau kalau
dulu dikenal dengan pewawancara, presenter atau bisa juga disebut dengan
pembawa acara. Istilah host muncul hanya baru-baru saja. Kalau dulu host itu
hospos, hospek dll.
Menjadi
seorang host/presenter di televise tidak semudah berbicara di radio yang tidak
menampakkan wajahnya, jadi untuk tampil di televisi diperlukan latihan yang
sungguh-sungguh dan persiapan yang sangat matang baik cara berbicara, cara
menatap kamera, cara menggunakan microphone yag benar, dan juga penampilan yang
menarik dll.
Seseorang yang tidak pernah atau tidak
terbiasa tampil di televisi tidak akan bagus bahkan bisa memalukan meskipun ia
pintar bahkan cerdas. Karena ia belum pernah tampil di televisi sehingga
ragu-ragu dalam menyampaikan yakni tidak bisa meyakinkankan pemirsa atau audience
terhadap apa yang disampaikan, karena ia belum tahu bagaimana cara menatap
kamera, pandangannya tidak focus dan kemana-mana dan bagaiman ekspresi ketika
menyampaikan.
Seorang
audience akan mudah terpengaruh dan mengikuti sesuai apa yang kita sampaikan
salah satunya ialah bagaimana cara kita menyampaikan kepada mereka serta
bagaimana ekspresi ketika kita menyampaikan informasi tersebut.
Berbeda
dengan seseorang yang sudah biasa tampil di televisi, ia akan mampu menguasai
audience dan sudah bisa menapa camera dengan baik, focus, konsentrasi yakni
pandangannya tidak kabur kemana-mana.
Bapak
Addin Chadiri sudah memberikan beberapa panduan menjadi seorang host yaitu:
Persiapan yang
diperlukan:
1.
Kesehatan
fisik atau jasmani (maaf tidak cacat fisik)
2.
Materi
yang akan disampaikan disesuaikan dengan audience (tingkat kecerdasan, profesi
dsb)
3.
Berpakaian
rapi, bersih, pantas serta tidak terlalu norak
4.
Berlatih
berbicara didepan kaca sebelum tampil ditelevisi (bagi pembicara pemula)
5.
Hadir
minimal 30 menit sebelum tampil untuk orientasi medan dan pengarah seperlunya
dari produser TV
Syarat menjadi
penyiar/host dalam segi berbicara yaitu:
1.
Mampu
bertuturkata dengan baik
2.
Enak
di dengar
3.
Mudah
di mengerti
4.
Artikulainya
dapat didengar dengan jelas
5.
Dan
lain-lain
Setiap
orang pasti berbeda dalam bertuturkata ada yang enak dan ada juga yang tidak
enak, biasanya perbedaan itu terlihat dari:
1.
Cara
berbicara
2.
Nada
suara
3.
Menggunakan
intonasi atau monoton
4.
Modulasi
suara
5.
Bahasa
yang digunakan ketika berbicara
6.
Dan
lain-lain
Bapak
Addin Chadiri juga sudah memberikan beberapa acuan mengoptimalkan suara, sesuai
dengan yang diberikan oleh beliau yaitu:
Alat Pernafasan:
Terdiri atas :
1. Pharynx atau hulu kerongkongan
2. Larynx atau pangkal tenggorokkan
3. Trachea atau batang tenggorok
4. Lungs atau paru-paru
5. BronchIal passages atau lIntasan tenggorok
6. DIapraghm atau diafragma,
Sekat rongga badan antara dada dan perut
PROBLEMATIKA SUARA
Dalam menyarakan sesuatu para penyiar radio
atau televisi dan pembawa acara seringkali dihadapkan pada 3 persoalan :
1.
Problematika
kualitas suara, meliputi:
·
Suara
parau
·
Suara
tipis
·
Suara
pecah
2.
Problematika
penyuaraan
·
Monoton
·
Miskin
nada
·
Singsong
·
Pola
akhiran
·
Menderu
3.
Probematika
pernapasan
·
Suara
berdesah nafas
·
Suara
tanpa daya
Paparan diatas ini adalah beberapa kutipan dari ringkasan bapak Addin
Chadiri.
Janganlah mengingat-ingat kesalahan awal yang
pernah kita lakukan Karena itu membuat kita tidak focus dan akan
menkacaukan perform kita.
Selanjutnya
setelah bapak Addin Chadiri menjelaskan bagaimana menjadi seorang
presenter/host yang baik, lalu beliau menyuruh satu-persatu dari mahasiswa
retorika untuk mempraktekkan di depan. Karena Diana Cholidah menyampaikan suatu
pertanyaan yang berkaitan dengan host kepada bapak Addin maka Diana lah yang
pertama kali disuruh mempraktekkan ke depan.
Ketika
Diana mempraktekkan ke depan sebenarnya suara Diana sudah enak, namun saying
sekali saat itu Diana masih kurang focus dalam menyampaikan, beda dengan Azka
Azkiyatul Khilmiah, Azka adalah salah satu mahasiswi retorika yang dikenal
dengan kecerdasannya serta di senangi dosen. Ketika itu Azka mempraktekkan
menjadi seorang host dengan baik, focus dan sudah memenuhi beberapa syarat
menjadi host namun suaranya masih kurang besar.
Lalu
sampailah pada giliran saya praktek ke depan, saat itu saya dari awal sampai
akhir tidak focus sama sekali dalam menyampaikan. Sehingga kacaulah semuanya, ketika
itu saya sangat bersedih karena saya merasa pasti itu sudah mengecewakan dosen
favorit saya yaitu Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. saya tidak tahu kenapa saya
sampai seperti itu, mungkin itu semua karena saya mendapat telephone dari orang
tau saya dengan memberikan kabar yang tidak enak, sehingga terganggulah
konsentrasi saya dan didalam pikiran saya hanya ada masalah, masalah masalah
itu.
Sampai
akhir kuliahpun saya masih belum focus karena yang ada dalam pikiran saya
hanyalah kabar itu, saya berusaha supaya bisa focus dalam perkuliahan saya,
tapi ketika saya memaksakan untuk focus, ternyata bukan tambah foku tetapi saya
tambah mengingat-ingat kata-kata yang sudah di sampaikan oleh orang tua saya.
dan kata-kata itu masih belum bisa terhapus dalam pikiran saya hinggi saat ini.
Saya berharap semuanya akan segera berlalu dengan baik.
Pesan
yang disampaikan bapak Addin Chadiri “Jangan Sampai ada luluan dari Dakwah yang
pernah menerima ilmu dari saya ada yang LION STILE.
Sekianlah
tulisan yang dapat saya tulis semoga bermanfaat buat kita semua, Aminn…
subhanallah ukhty uda berbakatnulisnya.:)
BalasHapus