Rabu, 01 April 2015

Bersujud di bawah Bangku !!!


            Sekitar pukul 12.35. Saya “Ratu Radega,” berjalan cepat menuju ruangan D1.211 yang terletak di lantai dua sebelah selatan. Dengan tujuan mengikuti perkuliahan Tekhnik Khitobah 2.
            Ketika saya mulai membuka pintu ruangan yang jaraknya sekitar 3 M dari tangga, salampun tak lupa saya ucapkan dengan nada pelan, “Assalamu’alaikum.” Terkagetlah, saat melihat teman saya bersujud didepan bangku yang tidak jauh dari pintu. “owalah palingan ini lagi praktek terapi sholat bahagia.” Ungkapku dalam hati.
            Namun apa yang terjadi?, ternyata itu adalah hukuman dari Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag bagi mahasiswanya yang terlambat masuk kelas. “ayo yang terlambat sujud syukur dulu, baca tasbih 100 kali, ambil posisi yang enak terserah didepan atau dibelakang.” begitulah celetuk mantan dekan fakultas dakwah itu dengan wajah yang kesal.
            Segeralah saya bergegas meletakkan tas dan mengambil posisi dibawah bangku paling belakang untuk bersujud. Penyesalan dan rasa bersalahpun muncul di hati saya karena sudah mengecewakan dosen favorit saya.
            Pembacaan tasbihpun sudah sampai 100 bacaan, tidak tahu kenapa tiba-tiba hati saya merasa ragu dan takut kurang. “wah kalau ini sampai kurang saya bisa berdosa.” Itulah suara hati saya. Maka saya menambahkan 10 bacaan lagi sebagai pengganti keraguan itu. Sampailah pada bacaan tasbih yang terakhir, disitulah hati saya merasa lebih tenang dan nyaman.
            Selesai melakukan sujud syukur saya berdiri dan beranjak kearah tempat duduk paling depan sebelah selatan. “Untung saya tidak marah, saya suruh kalian untuk sujud syukur.” Tutur pengarang buku TSB dengan penuh wibawa.
            Tak lama kemudian guru besar UINSA itu memanggil Azka dan meminta lembaran foto copy. Lalu beliau membagikan 1 lembar kertas Pedoman Penulisan Peristiwa kepada mahasiswanya, satu kertas untuk dua orang, berhubung saya duduk sendiri, saya mengajak sahabat saya Nitra Galih duduk didepan bersama saya.
            Dosen kelas Retorika itu menjelaskan cara menulis yang baik dengan menunjuk satu persatu dari kita “Mahasiswa.” Agar membacakan tulisan di kertas putih yang menjelaskan tentang terampil menulis. “Sekarang siapkan kertas dan tulis pengalamanmu yang terjadi sekarang.” Cakap sosok pendidik yang intelek.
            Seiring dengan berjalannya waktu saya dan teman-temanpun menulis sesuai perintah beliau, disinilah saya mengasah otak hingga akhirnya menemukan inspirasi dan banyak kosa kata yang saya inginkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Maka selesailah perkuliahan hari ini yang diakhiri dengan lantunan surat al-‘Asyr dan do’a kafaratul majlis bersama.
Selasa, 31 Maret 2015

20 komentar:

  1. Bagus. Lanjut Nulis Sahabat!!!!!!!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insyaallah. bantu do'a ya moga diberi kelancaran oleh Allah.. Amiiinnn

      Hapus
  2. tulian yang bagus. semoga bisa memotivasi yang lain untuk menulis

    BalasHapus
  3. tulian yang bagus. semoga bisa memotivasi yang lain untuk menulis

    BalasHapus
  4. hukuman yng sangat bijak sekali teman

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ustadzah barun pertama kali ini saya mendapat hukuman yang sangat menyenangkan :)

      Hapus
  5. wahhh ternyata kamu py bakat jadi penulis tul, pantesan laptop keyboardnya rusak semua, apa karena sering buat ngetik yahh hihii, tp yg jelas tulisan nya oke tul ceritanya ringan

    BalasHapus
  6. baru kali ini ada hukuman seperti itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. luarbiasa sekali, hukuman membawa berkah

      Hapus
  7. hukuman yang sangat luar biasa, Subhanallah

    BalasHapus
  8. wah kayaknya seru tuh hukuman, jadi pngen kuliah dstu juga hehe

    BalasHapus
  9. dosen yang bijaksana, subhanallah

    BalasHapus
  10. buat pealajaran agar menjadi insan yang di siplin waktu .,

    BalasHapus
  11. Prof Ali itu, dosen yang jarang marah. Kita bersyukur memilki dosen seperti itu kawan. hehehe

    BalasHapus
  12. ya gak papa , kan hukumannya rame-rame...

    BalasHapus
  13. ayow goyangkan trus batuknya sampai ngapal hitam mbak ratu.....heheh

    BalasHapus