Kamis, 26 Maret 2015

KISAH TAULADAN HUDZAIFAH IBNUL YAMAN

      Semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah SWT. Semuanya adalah titipan Allah dan semua itu akan kembali kepada Allah SWT.

Hadirin yang sangat saya homati  

      Banyak sekali sifat dan kepribadian Hudzaifah Ibnu Yaman yang harus kita teladani namun yang paling penting salah satu dari beberapa sifat Hudzaifah ialah Keimanan dan Kecintaannya kepada Allah SWT. Dalam kisahnya Hudzaifah bersama ayahnya di medan perang uhud, tiba-tiba pasukan Muslim menyerang ayahanda Hudzaifah karena menyangka belaiu adalah orang musyrik. Hudazifah melihat dari jauh pedang sedang dihujamkan kepada ayahnya, ia berteriak “ayahku… ayahku… jangan ia ayahku… tetapi qadla Allah telah tiba. 
 
Hadirin yang sangat saya hormati

       Apakah Hudazaifah marah ketika ayahnya terbunuh? Tidak hadirin, Hudzaifah tidak marah dan dendam kepada pasukan muslim yang sudah tidak sengaja membunuh ayahnya, tetapi Hudzaifah tetap bersikap kasih sayang dan memaafkan mereka serta memohonkan ampun untuk mereka “Semoga Allah mengampuni tuan-tuan, ia adalah sebaik-baik penyayang”. Subhanallah… mulia sekali hati Hudzaifah. Kejadian ini tidak membuat hati Hudzaifah goyah sehingga mengurangi rasa keimanan dan kecintaannya kepada Allah SWT. Namun Hudzaifah tetap teguh dan kuat keimanannya. Karena sungguh Allah telah befirman dalam QS. Al-Hadid [57]: 22 Dan Allah berfirman dalam QS. Al-An’am [6]: 162

     Dari kisah ini dapat disimpulkan bahwasanya kita harus tetap teguh imannya, tetap tabah dan sabar meskipun kita mendapat cobaan maupun ujian yang sangat besar sekalipun. Meskipun kita telah kehilangan orang yang sangat kita cintai Sebagaimana yang dialami Huzaifah ketika ayahnya terbunuh.
   
     Sesungguhnya semuanya adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah SWT. Kita harus tetap bersikap kasih sayang dan pemaaf kepada siapa saja, sekalipun kita sudah dilukai dan disakiti oleh orang lain baik sengaja maupun tidak sengaja seperti ketika orang muslim tidak sengaja membunuh ayah Hudzaifah di perang uhud karena disangka sebagai orang musyirik. Hudzaifah tidak bersikap dendam dan marah tetapi beliau memaafkan mereka dan mendo’akan mereka semoga mendapat pengampunan dari Allah SWT. (Karakteristik perihidup 60 shahabat Rasulullah, 2006: 237)

11 komentar:

  1. subhanallah. izin share ya..

    BalasHapus
  2. kisah yang patut di teladani, izin share ya ..

    BalasHapus
  3. bagusssssss sekali, izin share ya

    BalasHapus
  4. jadi terinspirasi pengen ceramah..

    BalasHapus
  5. subhanallah. sangat brmanfaat. thank

    BalasHapus
  6. saya tunggu kisah teladan dari ustadzah ratu radega

    BalasHapus
  7. semoga kita senantiasa menjadi pribadi seperti khudaifah

    BalasHapus
  8. subhanallah semoga kita senantiasa dalam jalannya

    BalasHapus
  9. Mulia sekali hati hudzaifah....

    BalasHapus
  10. Subhanallah menyentuh hati ..

    BalasHapus
  11. iyya. silahkan di share gpp. thank's buat semuanya ya.. :)

    BalasHapus