Selasa, 31 Maret 2015

ETNIS MADURA-JAWA



Ketika mendengar tentang Surabaya, pasti yang langsung diingat adalah kota pahlawan. Kota yang memilki banyak warna dalam segi kehidupan warga, baik dari segi bahasa maupun budayanya. Surabaya didalamnya terdapat warga Jawa, Madura, Tionghoa dan masih banyak yang lain. Yang ingin di deskripsikan disini adalah tentang kebudayaan Madura yang ada dikawasan pesisir (perak). Di kota besar, kota metropolitan kedua di Indonesia (Surabaya) tempat masyarakat majemuk berkumpul. Orang-orang pedesaan berurbanisasi di Surabaya. Orang-orang Madura termasuk didalamnya, mereka hampir mendominasi wilayah Surabaya. Hampir wilayah-wilayah di daerah Surabaya Timur terkenal dengan tempat warga Madura berkumpul disana. Misalnya saja daerah Perak, Kedung Cowek, Kenjeran, Bulak dan wilayah lainnya di Surabaya Timur. Walaupun mereka bukan asli Surabaya, mereka dapat membaur dengan orang Jawa. Sehingga sampai orang yang asli Surabaya pun, yang lahir di daerah setempat orang menganggap mereka yang asli Surabaya tersebut dengan keturunan Madura.
Biasanya orang Madura dikenal dengan cara komunikasinya yang kasar, identik dengan “carok”, lebih terbuka dan wataknya yang keras. Sehingga menimbulkan makna yang negativ tentang kebudayaan mereka. Namun tidak semuanya orang-orang Madura seperti itu. Terkadang orang Madura yang terlalu lama tinggal di Surabaya, cara berbicaranya hampir sama dengan orang Jawa, yang identik dengan mengutamakan kesopanan dalam berbicaranya.
Namun pada kenyataannya orang Madura mempunyai sifat ramah, sopan dan menghormati orang lain sehingga masyarakat Madura lebih di segani dan di hormati bahkan di takuti oleh masyrakat lain. Kebaikan yang diberikan kepada msyarakat Madura akan dibalas dengan kebaikan yang serupa juga bahkan lebih baik dari yang mereka berikan, namun jika mereka disakiti atau di injak-injak harga dirinya bisa saja mereka akan membalasnya lebih kejam dari apa yang mereka perbuat kepada orang Madura dan taruhannya adalah nyawa sehingga dikatakan bahwa orang Madura identik dengan “Carok”. Kata orang Madura “mon esalaeh innalillah, orosan nyabeh bagi kek lakek taronah nyabeh asandeng arek”
Carok, apakah carok itu? Carok adalah pertengkarannya dan clurit adalah alatnya, carok dan celurit laksana 2 dua sisi mata uang. Carok adalah lambang/simbol kesatria bagi orang Madura dalam memperjuangkan harga diri (kehormatan). Carok ini muncul di suku Madura sejak penjajahan belanda pada abad 18 M.
Tapi dibalik orang Madura yang identik dengan carok mereka sangat berbakti kepada guru-guru (kiyai/ibu nyai) mereka untuk mendapatkan barokah dari para gurunya. Karena mereka sangat percaya bahwa barokah guru itu ada.
Dari hasil penelitian antara orang Madura yang tinggal di Surabaya, orang Madura yang tinggal di Madura, orang Surabaya yang tinggal di Madura dan orang Surabaya yang tinggal di Surabaya sendiri.
Orang Madura hampir mendominasi di wilayah jawa, dan rata-rata mereka dari Madura sampang. Mereka merantau ke daerah jawa niat pertama adalah berdagang atau mencari nafkah. Dan kebanyakan dari mereka yang meratau ke daerah jawa sudah berkeluarga namun juga ada yang masih remaja. Selain niat meraka berdagang mereka juga ingin mencari pengalaman khususnya bagi yang masih remaja yakni belum bersuami ataupun belum beristri, dan disitulah terjadi suatu proses interkasi sosial antara local people yaitu orang Madura dengan orang jawa khususnya yang terletak di kawasan pesisir seperti daerah perak.
Ketika pertama kali orang Madura hidup di jawa memang merasa asing dan belum bisa memahami bahasanya secara keseluruhan juga masih bingunga bagaimana caranya berinteraksi dengan local people, dan mereka masih sangat kental dengan budaya mereka sendiri, namun beberapa hari bahkan ada yang berbulan-bulan mereka sudah dapat menyesuaikan bagaimana ketika hidup dengan orang jawa meskipun itu tidak langsung semuanya.
Dan ketika orang jawa pertama kali hidup dimadura mereka lebih merasa kebingungan dari pada orang Madura waktu pertama kali tinggal di jawa, karena orang Madura dapat memahami bahasa jawa meskipun hanya sedikit, sedangkan orang jawa tidak dapat memahami bahkan sulit dalam memahami bahasa Madura dan untuk dapat memahami atau dapat berkomunikasi dengan menggunakan bahsa Madura memerlukan waktu yang cukup lama bahkan ada yang sampai bertahun-tahun namun juga ada yang cepat dalam menangkap bahasa Madura tsb. Selain itu waktu pertama kali orang jawa tinggal di Madura mereka takut terhadap orang Madura karena mereka menganggap orang Madura orang keras-keas dan kasar, tapi kemudian setelah mereka mengenal dan mengetahui bagaimana sebenarnya orang Madura bahwa tidak semuanya seperti yang mereka kira dan itu semua tergantung pada individunya masing-masing.
Ketika orang Madura berinteraksi dengan orang jawa orang Madura bisa menyesuaikan dengan bahasa jawa karena sudah lama tinggal di jawa meskipun bahasanya masih agak kasar dan masih terlihat logat maduranya, namun terkadang orang Madura keceplosan menggunakan bahasa Madura sehingga bahasa yang mereka gunakan adalah campuran.
Sesuai penelitian bahwa ada banyak pendapat yang berbeda antar individu baik dalam menyampaikan suatu informasi, pendidikan dan dalam berbisnis dll. Dalam menilai suatu budaya setiap orang berbeda-beda, ketika orang Madura di tanya bagaimana dalam menilai suatu budaya bahwasanya ia “Nur Aisyah” kota asal sampan Madura,  lebih senang, suka dan nyaman bila hidup di (jawa) tepatnya kota Surabaya meskipun Madura adalah tanah air mereka sendiri, karena surabaya adalah kota metropolitan kedua yang ada di indinesia, di surabaya lebih ramai, lebih banyak hiburannya dari pada di Madura yang hanya hidup di desa tanpa adanya berbagai macam hiburan seperti Surabaya, dan juga alasannya karena suami mereka adalah asli orang Surabaya sendiri.
Namun juga ada yang berpendapat “Riyadi” bahwa lebih suka dan nyaman tinggal di Madura, karena selain Madura adalah tanah air mereka sendiri Madura tempatnya lebih nyaman, sejuk, tentram aman dan damai juga bebas polusi terutama dipedesaan yang penuh dengan tumbuhan hijaunya. Dan di desa lebih erat tali persaudaraannya dari pada dikota.
Begitupun sebaliknya bahwa ada orang jawa “laily” ia lebih senang tinggal di Madura karena tempatnya yang tenang dan warga Madura lebih bisa menghargai satu sama lain dan dalam bermsayarakat mereka lebih nyaman dari pada warga-warga yang ada di jawa. Namun juga ada orang jawa yang lebih senang hidup di Surabaya sendiri “ Erna” karena menurutnya hidup di kota metropolitan seperti Surabaya lebih banyak pengalamannya dan sesuatunya lebih canggih dari pada  hidup di desa yang hanya itu-itu aja bisa di bilang kalau hidup di desa lebih katrok dan kuper, sehingga hidup di Surabaya lebih nyaman dari pada di Madura dan di Surabaya lebih bebas dalam melakukan sesuatu sesuai keinginan mereka.
Madura dan jawa adalah budaya yang berbeda baik dari segi agama maupun social ekonominya, perbedaan antara Madura dengan jawa bisa dilihat dari cara berpakaian, berbicara, ke khasan juga keunikan baik dala segi bahasa “ gheoghe” dan cara berpenampilan. Namun disamping ittu juga ada kesamaan antara budaya Madura dengan budaya jawa yang dikenal dengan fanatic terhadap agamanya. Kesamaannya adalah dalam tarekat yang di ikuti ialah tarekat naqsyabandiyyah (lukisan hati). Mereka memandang tarekat naqsyababdiyah adalah tarekat yang sederhana dan mudah dipraktekkan. Tapi jika di daerah tepatnya yang di Surabaya itu jarang yang mengikuti tarekat naqsyabandiyah namun budaya yang ada di Surabaya lebih banyak mengikuti sesuai keadaaan di eramodern seperti saat ini. Selain ada kesamaan terhadap tarekat yang di ikuti juga ada kesamaan dalam bermasyarakat contohnya bagi warga yang tinggal di daerah perumahan mereka kurang bermasyarakat seperti hidup sendiri karena kesibukannya dalam berkarir, juga ada persamaan yang lain seperti aliran yang mereka anut ialah rata-rata NU dan agamanya adalah Islam.
Orang Madura lebih mengunggulkan akhlaknya sehingga mereka selalu menghormati dan berprilaku sopan santun terhadap orang lain terutama terhadap tetangga karena tetangga adalah saudara yang sangat dekat. Orang Madura suka terhadap pekerjaan gotong-royong. Dan tidak ada yang bisa mengalahi orang Madura terhadap keikhlasan dalam membantu tetangganya. Orang Madura selalu mencari saudara nya meskipun jauh. Apa lagi ketika orang Madura bertemu sesama orang maduranya di luar Madura meskipun mereka tidak saling kenal tapi mereka merasa dan menganggapnya adalah saudara yang sangat dekat.
Adapun bahasa yang digunakan dalam proses interaksi tersebut ialah dengan bahasa yang bertingkat misalnya ketika berinteraksi dengan orang yang lebih muda maka bahasa yang digunakan tidak terlalu halus ct: kata sampean, ketika berinteraksi kepada orang yang lebih tua maka menggunkan kata yang lebih halus ct: Panjennengan. Namun ada juga yang munggunakan kata-kata kasar sesuai keinginan. Kebanyakan yang munggunakan kata-kata kasar itu adalah para remaja yang ada era modern seperti saat ini. Dan terkadang bahasa yang digunakan adalah campuran Madura-jawa, jawa-madura, jawa-jawa, Madura-madura. sehingga terjadilah sesuatu yang membuat bingung atau bisa dibilang kurang faham dengan bahasa yang mereka sampaikan karena yang digunakan adalah bahasa campuran atau biasa dibilang bahasa Madura ialah bahasa “Gheoghe”. disebut bahasa Gheoghe karena orang Madura selalu merubah bahasa-bahasa menjadi bahasa yang tidak sesuai dengan bahasa seperti nama orang yang berasal dari bahasa arab misalnya Sulaiman menjadi Soleman. Sehingga bahasa orang Madura disebut dengan bahasa Gheoghe.
Contohnya dari hasil pengamatan dikawasan perak/pesisir yang telah di amati ketika ada penumpang turun/keluar dari angkot, bis dll. Pasti ada supir-supir angkot/becak yang sedang menunggu datangnya penumpang yang ingin menyeberang laut (menaiki kapal) untuk melakukan perjalanan kemadura. Dimana supir-supir tesebut berebutan dalam menawarkan penumpang supaya mengikuti/menaiki angkotnya. Namun bahasa yang mereka gunakan adalah rata-rata bahasa Madura karena kebanyakan dari supir angkot di daerah perak/pesisir tersebut dari kalangan orang Madura. Padahal tidak semua penumpang yang ingin menyeberang laut/ menaiki kapal tersebut adalah orang Madura tetapi juga banyak dari orang jawa yang tidak mengerti bahasa Madura sehingga bagi mereka yang tidak mengerti bahasa Madura menampakkan raut wajah seperti orang kebingungan terhadap bahasa tersebut, namun juga ada yang menggukan bahasa jawa ataupun bahasa Indonesia tetapi masih sangat jarang mungkin disebabkan karena orang Madura sudah mendominasi di daerah tsb.
Ketika orang jawa ataupun orang Madura berbicara maka sudah kelihatan dari logat bicaranya, intonasi (nada) dalam berbicara bahwa itu adalah orang Madura / orang jawa. Jadi meskipun mereka tidak menggunakan bahasa mereka masing-masing misalnya sama-sama menggunkan bahasa Indonesia sudah terlihat mana yang rang jawa dan mana yang orang Madura, jika orang Madura menggunakan bahasa Indonesia masih terlihat kaku dan masih terlihat logat Madura, tapi jika orang jawa tidak seberapa kaku seperti orang Madura. Namun juga ada orang Madura dan orang jawa dalam menyampaikan informasi dengan menggunakan bahasa Indonesia sudah bagus dan sudah tidak terlihat logat bicara seperti dalam menggunakan bahasa mereka masing-masing. Biasanya mereka yang sudah bagus itu adalah orang-orang yang sudah terbiasa menggunakan bahasa Indonesia seperti para artis, pejabat dll.
Cara kerja sama yang digunakan oleh orang Madura dengan orang jawa, sesuai dengan perjanjian yang mereka tetapkan sebelum terjadinya proses kerjasama misalnya dalam bebisnis, mereka saling bekerjasama sehingga mendapatkan keuntungan yang mereka harapkan.
Pertama kali dalam melakukan suatu kerja sama mereka melakukan proses perkelan dengan cara menjabatkan tangannya, dengan raut wajah yang sopan, ramah dan menebar senyum. Kemudian mereka berinteraksi dengan saling menyampaikan informasi dan berbagi pengalaman sesuai apa yang telah mereka ketahui dan juga melakukan suatau ikrar (perjanjian) supaya tidak terjadi kesalah pahaman satu sama lain.
Interaksi yang dilkukan oleh orang jawa dengan orang Madura, ketika terjadi suatu itu interaksi antar budaya seperti budaya Madura dengan budaya jawa lebih mudah jika orang Madura dan orang jawa dalam melakukan interaksi itu sudah saling mengerti bahasanya satu sama lain. Namun jika diantara keduanya tersebut tidak ada yang mengerti bahasa tsb, maka interaksi yang seperti itu sangat sulit, selain harus saling memahami bahasa masing-masing juga harus mengetahui bagaimana nada/intonasi ketika orang Madura / orang jawa berbicara, karena jika tidak mengerti bisa jadi terjadi suatu kesalah pahaman dalam mengartikan perkataan yang sudah di ucapkan, misalnya orang Madura ketika berbicara/berinteraksi yang identik dengan nada/intonasi yang tinggi, keras, kasar sehingga terlihat/ terdengar seperti orang yang lagi marah-marah, padahal kenyataannya tidak seperti yang mereka kira, beda dengan orang jawa ketika berbicara dengan bahasa yang lembut, dan dengan nada rendah, namun tidak semua orang jawa berbahasa yang lembut dan nada yang rendah tapi juga ada yang bahasanya seperti bahasa orang Madura yang identik dengan dengan bahasa yang kasar begitu juga dengan orang Madura tidak semua orang Madura berbahasa kasar dan benada tinggi namun juga ada yang berbahasa lemah lembut dan bernada rendah seperti halnya orang jawa,.
Interaksi antara orang Madura dengan orang jawa hampir sama ketika orang jawa dengan orang jawa dan orang Madura dengan orang Madura sendiri, hanya saja yang membedakan itu adalah bahasanya, interaksi sosial yang terjadi antara masyarakat Madura dengan jawa paling cepat terjadinya interaksi tersebut biasanya terjadi dalam bergaul, keramaian di pasar-pasar dan di sekolah dan proses interaksi tersebut harus melibatkan kedua belah pihak. Dan dalam interaksi tersebut terjadi proses salam-salaman, pertentangan, tolong menolong dll.
Cara bersalaman antara Madura-jawa ialah sama seperti orang jawa-jawa dan Madura-madura. Ialah dengan cara mengulurkan tangannya, jika anak kepada orang tua maka anaknya sungkem kepada orang tuanya, jika seumuran maka hanya dengan mengulurkan tangan, jika dengan lawan jenis cukup bentuk rasa hormat dengan cara mengangkat sedikit kedua tangannya tanpa menyentuh tangan lawan jenis. Namun juga ada dengan cara cipika-cipiki, dan itu rata-rata terjadi pada orang-orang kota seperti Surabaya.
Dalam melayani pelanggan, ketika yang menjadi pedagang adalah orang Madura dan yang menjadi pelanggan adalah orang jawa maka sikap orang Madura sebagai pedagangnya dalam melayani orang jawa yang statusnya sebagai pelanggan mereka berprilaku sopan, menghormati meskipun pelanggan yang mereka layani itu terlihat cuek dan kurang sopan namun juga ada yang tidak suka  ketika melayani pelanggan yang kurang sopan, misalnya yang terjadi di warung bebek atau warkop, ada pelanggan yang ingin memesan makanan ataupun minuman cara yang mereka gunakan dalam memesan itu dengan cara melambaikan tangannya dari jauh dan suara yang keras tanpa menghampiri penjual secara langsung dalam memesan, dan cara pemesanan yang seperti itu adalah cara yang tidak sopan dan penjual tidak suka dengan cara yang seperti itu dan sipenjual merasa kurang di hargai sehingga terkadang si penjual tidak merespon pesanan dari pelanggan yang seperti itu.
Proses negosiasi dalam berdagang, antara orang jawa dengan orang Madura, ternyata bila orang Madura bertemu dengan pelanggan Madura juga maka proses negosiasinya dipermudah dan mudah di berikan dengan harga murah, namun jika bertemu dengan budaya asing proses negosiasinya tidak akan dipersulit namun disesuaikan dengan harga yang sudah ditetapkan untuk mendapat keuntungan yang lebih. Jika pedagang dari jawa bertemu dengan pelanggan Madura proses negosiasinya sama dengan ketikan melayani pelanggan dari jawa.
Cara berpakaian ketika orang Madura tinggal di Surabaya rata-rata sudah hampir seperti cara berpakaiannya orang Surabaya, misalnya pakaian yang ketat-ketat, celana pensil dan bahkan juga ada yang memakai hotpant (celana pendek) terutama bagi para remaja. Dan ternyata alasan mereka berpenampilan seperti itu setiap individu berbeda, ada yang berasalan khususnya yang bagi yang kerja di mol-mol alasannya karena memang sudah aturannya dan harus berpenampilan meanarik seperti dengan membuka aurat (hotpen), ada juga yang mereka sebagai pedagang kaki lima/ warung-warung nasi alasannya supaya ketika ingin melayani pelanggan mereka tidak terlalu ribet, lebih simpel dan nyaman bila tidak memakai pakaian yang logger-longgar dan tanpa hijab, meskipun sebenarnya mereka menilai bahwa memakai hijab lebih bagus dan lebih anggun. Dan hampir semua warga Madura yang sudah lama tinggal di Surabaya sudah tidak menggunakan sesuai dengan budaya mereka sendiri, namun juga ada yang masih memakai dan menggunakan seperti budaya mereka yang sebenarnya, misalnya masih berpenampilan menutup aurat meskipun ada yang tidak memakai kerudung, dan menggunakan pakaian yang longgar/ tidak terlalu ketat, dan ada juga yang masih sangat kental dengan budaya mereka sendiri yaitu memakai sarung dan kebayak.
Pendidikan lebih penting dari pada pekerjaan terutama masalah ilmu agama, “ujar orang Madura”, dan pendapat mereka di Madura lebih murah biaya pendidikannya dari pada di Surabaya, namun rata-rata orang Madura hanya sampai pada jenjang pendidikan SMA, tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, alasannya karena biayanya tidak memadahi, terutama yang hidup di pelosok yang jarang ada sekolahan,  namun juga ada yang melanjutkan keperguruan tinggi tapi itu sangat minim. Dan mereka juga ingin menyekolahkan anaknya di sekolahan yang kualitasnya bagus bahkan sekolah international, tapi itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kaya misalnya para pengusaha dan pejabat. Beda dengan orang jawa yang hampir keseluruhan dapat melanjutkan sampai keperguruan tinggi.
Adapun mereka warga Madura yang kuliah sambil menjadi supir angkot, namun mereka menjadi supir angkot bukan karena minat tapi karena hobby, juga tujuannya menjadi supir angkot hanya untuk sampingan dan membantu beban orang tuanya dalam membiayai semua anak-anaknya yang ketepatan mempunyai banyak saudara yang masih ada di bangku sekolah bahkan kuliah. Karena hobby menjadi seorang supir ia sudah bisa membeli mobil sendiri sehingga ia lebih mudah dalam membantu orang tuanya dan membiayai kuliahnya dengan hasil susah payahnya sendiri.
Kekhasan dan keunikan yang dimiliki oleh orang Madura adalah bahasa yang gheoghe, keindahan alam (estetis), dan juga agamis. Dan selain itu juga terdapat tradisi seperti kerapan sapi, kerapan kuda juga memiliki makanan has salat satunya ialah soto Madura, dan sate Madura. Yang makanannya itu hampir semuanya rasanya asin dan pedas.
Ketika merayakan sebuah perayaan yang besar misalnya hari raya, bila orang Madura yang berdagang dan  tinggal di jawa maka mereka akan menutup warung/ toko sebelum hari hari rayanya yaitu di tutup pada hari ke 28 nya, kemudian pulang kampung pada hari itu juga namun jika tempatnya sama-sama maduranya maka di tutup pas hari “H” nya. Begitupun dengan orang jawa. Namun jika orang china bila hari raya Islam tetap di buka dan bahkan ketika hari raya pengunjungnya lebih banyak dari pada hari-hari biasanya. Kecuali hari raya china sendiri seperti hari natal maka tokonya akan di tutup.
Dan dalam hari raya Islam bila di masayarakat Madura lebarannya lebih ramai di hari raya ketupat dan hari raya kuban (idul adha) dibanding dengan hari raya idul fitrih sendiri beda dengan masyarakat jawa. Dan waktu hari raya tersebut di Madura juga ada kegiatan silaturrahim kepada keluarga dan para tetangga dan itu dilakukan seharian penuh pada hari raya itu juga namun juga ada yang melanjutakan esok harinya bahkan samapai 7 hari masi tetap dilakukan silaturrahmi. bagi-bagi ampua namun jika ampau yang di bagi-bagikan oleh orang Madura itu hanya kepada anak-anak kecil saja, sedangkan jika orang jawa membagikan ampaunya kepada anak bungsu.
Budaya Madura dan budaya jawa menganggap budaya mereka lebih tinggi dari budaya lain misalnya di bidang agama, mereka lebih fanatic kepada agama mereka dari pada budaya lain. Mereka juga mempunyai rasa empati.
Simbol-simbol yang ada dalam budaya jawa ialah seperti sedekah bumi yang bertujuan untuk mensyukuri nikmat yang telah di berikan oleh ALLAH SWT. Dan itu biasanya dilakukan setelah panen dengan mengumpulkan semua warga desa setempat dengan membawa makanan yang dikumpulkan menjadi satu dan itu terjadi di lamongan juga tuban, namun disetiap desa ada yang berbeda caranya yaitu tidak mengadakan sedekah bumi seperti desa tersebut, ada juga yang dilakukan dengan cara mojok seperti melakukan tasyakuran tersebut dilakukan di tengah sawah. Dalam budaya jawa juga terdapat simbol seperi “panda walima” (wayang), yang di lakukan pada acara-acara tertentu seperti ruah desa yang dilkukan oleh sesepuh desa juga warga desa setempat dan itu juga biasa dilakukan setelah panen terkadang juga di adakan ketika ada acara hajatan atau pernikahan.
Dari simbol-simbol tersebut juga ada simbol-simbol seperti ketika orang jawa bertemu dengan orang yang mereka kenal maka mereka biasanya menyapa dengan senyum, atau kata “Monggo” juga ada yang menyapa dengan mengucap salam namun itu sangat jarang sekali, biasanya sapaan seperti mengucap salam itu hanya dilakukan oleh para kiyai.
Sedangkan simbol budaya Madura ialah seperti celurit dan adalah salah satu simbol dari carok, dan carok sendiri adalah sebagai simbol harga diri masyarakat Madura, selain itu juga ada kerapan sapi, kerapan sapi bukan hanya sebagai tradisi masyarakat Madura juga sebagai simbol dan suatu kebanggaan yang dapat mengangkat martabat budaya Madura. Kerapan sapi tersebut adalah simbol pesta rakyat budaya Madura yang biasanya perayaan tersebut dilaksanakan setiap tahun.
Selain itu juga terdapat simbol ketika orang Madura bertemu dengan orang yang mereka kenal, hampir sama dengan orang jawa yaitu menyapa dengan senyuman, mengucap salam “assalamu’alaikam, dan ucapan salam biasanya hanya dilukan oleh ustadz/ustadzah, kiyai/ibu nyai, murid kepada guru, juga dengan kata “Hei” dll.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar