Ketika mendengar tentang Surabaya, pasti yang langsung diingat
adalah kota pahlawan. Kota yang memilki banyak warna dalam segi kehidupan
warga, baik dari segi bahasa maupun budayanya. Surabaya didalamnya terdapat
warga Jawa, Madura, Tionghoa dan masih banyak yang lain. Yang ingin di
deskripsikan disini adalah tentang kebudayaan Madura yang ada dikawasan pesisir
(perak). Di kota besar, kota metropolitan kedua di Indonesia (Surabaya) tempat
masyarakat majemuk berkumpul. Orang-orang pedesaan berurbanisasi di Surabaya.
Orang-orang Madura termasuk didalamnya, mereka hampir mendominasi wilayah
Surabaya. Hampir wilayah-wilayah di daerah Surabaya Timur terkenal dengan
tempat warga Madura berkumpul disana. Misalnya saja daerah Perak, Kedung Cowek,
Kenjeran, Bulak dan wilayah lainnya di Surabaya Timur. Walaupun mereka bukan
asli Surabaya, mereka dapat membaur dengan orang Jawa. Sehingga sampai orang
yang asli Surabaya pun, yang lahir di daerah setempat orang menganggap mereka
yang asli Surabaya tersebut dengan keturunan Madura.
Biasanya orang Madura dikenal dengan cara komunikasinya yang kasar,
identik dengan “carok”, lebih terbuka dan wataknya yang keras. Sehingga
menimbulkan makna yang negativ tentang kebudayaan mereka. Namun tidak semuanya
orang-orang Madura seperti itu. Terkadang orang Madura yang terlalu lama
tinggal di Surabaya, cara berbicaranya hampir sama dengan orang Jawa, yang
identik dengan mengutamakan kesopanan dalam berbicaranya.
Namun pada kenyataannya orang Madura mempunyai sifat ramah, sopan
dan menghormati orang lain sehingga masyarakat Madura lebih di segani dan di
hormati bahkan di takuti oleh masyrakat lain. Kebaikan yang diberikan kepada
msyarakat Madura akan dibalas dengan kebaikan yang serupa juga bahkan lebih
baik dari yang mereka berikan, namun jika mereka disakiti atau di injak-injak
harga dirinya bisa saja mereka akan membalasnya lebih kejam dari apa yang mereka
perbuat kepada orang Madura dan taruhannya adalah nyawa sehingga dikatakan
bahwa orang Madura identik dengan “Carok”. Kata orang Madura “mon esalaeh
innalillah, orosan nyabeh bagi kek lakek taronah nyabeh asandeng arek”
Carok, apakah carok itu? Carok adalah pertengkarannya dan clurit
adalah alatnya, carok dan celurit laksana 2 dua sisi mata uang. Carok adalah
lambang/simbol kesatria bagi orang Madura dalam memperjuangkan harga diri
(kehormatan). Carok ini muncul di suku Madura sejak penjajahan belanda pada
abad 18 M.
Tapi dibalik orang Madura yang identik dengan carok mereka sangat
berbakti kepada guru-guru (kiyai/ibu nyai) mereka untuk mendapatkan barokah
dari para gurunya. Karena mereka sangat percaya bahwa barokah guru itu ada.
Dari hasil penelitian antara orang Madura yang tinggal di Surabaya,
orang Madura yang tinggal di Madura, orang Surabaya yang tinggal di Madura dan
orang Surabaya yang tinggal di Surabaya sendiri.
Orang Madura hampir mendominasi di wilayah jawa, dan rata-rata
mereka dari Madura sampang. Mereka merantau ke daerah jawa niat pertama adalah berdagang
atau mencari nafkah. Dan kebanyakan dari mereka yang meratau ke daerah jawa
sudah berkeluarga namun juga ada yang masih remaja. Selain niat meraka
berdagang mereka juga ingin mencari pengalaman khususnya bagi yang masih remaja
yakni belum bersuami ataupun belum beristri, dan disitulah terjadi suatu proses
interkasi sosial antara local people yaitu orang Madura dengan orang jawa
khususnya yang terletak di kawasan pesisir seperti daerah perak.
Ketika pertama kali orang Madura hidup di jawa memang merasa asing
dan belum bisa memahami bahasanya secara keseluruhan juga masih bingunga
bagaimana caranya berinteraksi dengan local people, dan mereka masih sangat
kental dengan budaya mereka sendiri, namun beberapa hari bahkan ada yang
berbulan-bulan mereka sudah dapat menyesuaikan bagaimana ketika hidup dengan
orang jawa meskipun itu tidak langsung semuanya.
Dan ketika orang jawa pertama kali hidup dimadura mereka lebih
merasa kebingungan dari pada orang Madura waktu pertama kali tinggal di jawa,
karena orang Madura dapat memahami bahasa jawa meskipun hanya sedikit,
sedangkan orang jawa tidak dapat memahami bahkan sulit dalam memahami bahasa
Madura dan untuk dapat memahami atau dapat berkomunikasi dengan menggunakan
bahsa Madura memerlukan waktu yang cukup lama bahkan ada yang sampai
bertahun-tahun namun juga ada yang cepat dalam menangkap bahasa Madura tsb.
Selain itu waktu pertama kali orang jawa tinggal di Madura mereka takut
terhadap orang Madura karena mereka menganggap orang Madura orang keras-keas
dan kasar, tapi kemudian setelah mereka mengenal dan mengetahui bagaimana
sebenarnya orang Madura bahwa tidak semuanya seperti yang mereka kira dan itu
semua tergantung pada individunya masing-masing.
Ketika orang Madura berinteraksi dengan orang jawa orang Madura
bisa menyesuaikan dengan bahasa jawa karena sudah lama tinggal di jawa meskipun
bahasanya masih agak kasar dan masih terlihat logat maduranya, namun terkadang
orang Madura keceplosan menggunakan bahasa Madura sehingga bahasa yang mereka
gunakan adalah campuran.
Sesuai penelitian bahwa ada banyak pendapat yang berbeda antar
individu baik dalam menyampaikan suatu informasi, pendidikan dan dalam
berbisnis dll. Dalam menilai suatu budaya setiap orang berbeda-beda, ketika
orang Madura di tanya bagaimana dalam menilai suatu budaya bahwasanya ia “Nur
Aisyah” kota asal sampan Madura, lebih
senang, suka dan nyaman bila hidup di (jawa) tepatnya kota Surabaya meskipun
Madura adalah tanah air mereka sendiri, karena surabaya adalah kota
metropolitan kedua yang ada di indinesia, di surabaya lebih ramai, lebih banyak
hiburannya dari pada di Madura yang hanya hidup di desa tanpa adanya berbagai
macam hiburan seperti Surabaya, dan juga alasannya karena suami mereka adalah
asli orang Surabaya sendiri.
Namun juga ada yang berpendapat “Riyadi” bahwa lebih suka dan
nyaman tinggal di Madura, karena selain Madura adalah tanah air mereka sendiri
Madura tempatnya lebih nyaman, sejuk, tentram aman dan damai juga bebas polusi
terutama dipedesaan yang penuh dengan tumbuhan hijaunya. Dan di desa lebih erat
tali persaudaraannya dari pada dikota.
Begitupun sebaliknya bahwa ada orang jawa “laily” ia lebih senang
tinggal di Madura karena tempatnya yang tenang dan warga Madura lebih bisa
menghargai satu sama lain dan dalam bermsayarakat mereka lebih nyaman dari pada
warga-warga yang ada di jawa. Namun juga ada orang jawa yang lebih senang hidup
di Surabaya sendiri “ Erna” karena menurutnya hidup di kota metropolitan
seperti Surabaya lebih banyak pengalamannya dan sesuatunya lebih canggih dari
pada hidup di desa yang hanya itu-itu
aja bisa di bilang kalau hidup di desa lebih katrok dan kuper, sehingga hidup
di Surabaya lebih nyaman dari pada di Madura dan di Surabaya lebih bebas dalam
melakukan sesuatu sesuai keinginan mereka.
Madura dan jawa adalah budaya yang berbeda baik dari segi agama
maupun social ekonominya, perbedaan antara Madura dengan jawa bisa dilihat dari
cara berpakaian, berbicara, ke khasan juga keunikan baik dala segi bahasa “
gheoghe” dan cara berpenampilan. Namun disamping ittu juga ada kesamaan antara
budaya Madura dengan budaya jawa yang dikenal dengan fanatic terhadap agamanya.
Kesamaannya adalah dalam tarekat yang di ikuti ialah tarekat naqsyabandiyyah
(lukisan hati). Mereka memandang tarekat naqsyababdiyah adalah tarekat yang
sederhana dan mudah dipraktekkan. Tapi jika di daerah tepatnya yang di Surabaya
itu jarang yang mengikuti tarekat naqsyabandiyah namun budaya yang ada di
Surabaya lebih banyak mengikuti sesuai keadaaan di eramodern seperti saat ini. Selain
ada kesamaan terhadap tarekat yang di ikuti juga ada kesamaan dalam
bermasyarakat contohnya bagi warga yang tinggal di daerah perumahan mereka
kurang bermasyarakat seperti hidup sendiri karena kesibukannya dalam berkarir,
juga ada persamaan yang lain seperti aliran yang mereka anut ialah rata-rata NU
dan agamanya adalah Islam.
Orang Madura lebih mengunggulkan akhlaknya sehingga mereka selalu
menghormati dan berprilaku sopan santun terhadap orang lain terutama terhadap
tetangga karena tetangga adalah saudara yang sangat dekat. Orang Madura suka
terhadap pekerjaan gotong-royong. Dan tidak ada yang bisa mengalahi orang
Madura terhadap keikhlasan dalam membantu tetangganya. Orang Madura selalu
mencari saudara nya meskipun jauh. Apa lagi ketika orang Madura bertemu sesama
orang maduranya di luar Madura meskipun mereka tidak saling kenal tapi mereka
merasa dan menganggapnya adalah saudara yang sangat dekat.
Adapun bahasa yang digunakan dalam proses interaksi tersebut ialah
dengan bahasa yang bertingkat misalnya ketika berinteraksi dengan orang yang
lebih muda maka bahasa yang digunakan tidak terlalu halus ct: kata sampean,
ketika berinteraksi kepada orang yang lebih tua maka menggunkan kata yang lebih
halus ct: Panjennengan. Namun ada juga yang munggunakan kata-kata kasar sesuai
keinginan. Kebanyakan yang munggunakan kata-kata kasar itu adalah para remaja
yang ada era modern seperti saat ini. Dan terkadang bahasa yang digunakan
adalah campuran Madura-jawa, jawa-madura, jawa-jawa, Madura-madura. sehingga
terjadilah sesuatu yang membuat bingung atau bisa dibilang kurang faham dengan
bahasa yang mereka sampaikan karena yang digunakan adalah bahasa campuran atau
biasa dibilang bahasa Madura ialah bahasa “Gheoghe”. disebut bahasa
Gheoghe karena orang Madura selalu merubah bahasa-bahasa menjadi bahasa yang
tidak sesuai dengan bahasa seperti nama orang yang berasal dari bahasa arab
misalnya Sulaiman menjadi Soleman. Sehingga bahasa orang Madura disebut dengan
bahasa Gheoghe.
Contohnya dari hasil pengamatan dikawasan perak/pesisir yang telah
di amati ketika ada penumpang turun/keluar dari angkot, bis dll. Pasti ada
supir-supir angkot/becak yang sedang menunggu datangnya penumpang yang ingin
menyeberang laut (menaiki kapal) untuk melakukan perjalanan kemadura. Dimana
supir-supir tesebut berebutan dalam menawarkan penumpang supaya
mengikuti/menaiki angkotnya. Namun bahasa yang mereka gunakan adalah rata-rata
bahasa Madura karena kebanyakan dari supir angkot di daerah perak/pesisir
tersebut dari kalangan orang Madura. Padahal tidak semua penumpang yang ingin
menyeberang laut/ menaiki kapal tersebut adalah orang Madura tetapi juga banyak
dari orang jawa yang tidak mengerti bahasa Madura sehingga bagi mereka yang
tidak mengerti bahasa Madura menampakkan raut wajah seperti orang kebingungan
terhadap bahasa tersebut, namun juga ada yang menggukan bahasa jawa ataupun
bahasa Indonesia tetapi masih sangat jarang mungkin disebabkan karena orang
Madura sudah mendominasi di daerah tsb.
Ketika orang jawa ataupun orang Madura berbicara maka sudah
kelihatan dari logat bicaranya, intonasi (nada) dalam berbicara bahwa itu
adalah orang Madura / orang jawa. Jadi meskipun mereka tidak menggunakan bahasa
mereka masing-masing misalnya sama-sama menggunkan bahasa Indonesia sudah
terlihat mana yang rang jawa dan mana yang orang Madura, jika orang Madura
menggunakan bahasa Indonesia masih terlihat kaku dan masih terlihat logat
Madura, tapi jika orang jawa tidak seberapa kaku seperti orang Madura. Namun
juga ada orang Madura dan orang jawa dalam menyampaikan informasi dengan
menggunakan bahasa Indonesia sudah bagus dan sudah tidak terlihat logat bicara
seperti dalam menggunakan bahasa mereka masing-masing. Biasanya mereka yang
sudah bagus itu adalah orang-orang yang sudah terbiasa menggunakan bahasa
Indonesia seperti para artis, pejabat dll.
Cara kerja sama yang digunakan oleh orang Madura dengan orang jawa,
sesuai dengan perjanjian yang mereka tetapkan sebelum terjadinya proses
kerjasama misalnya dalam bebisnis, mereka saling bekerjasama sehingga
mendapatkan keuntungan yang mereka harapkan.
Pertama kali dalam melakukan suatu kerja sama mereka melakukan
proses perkelan dengan cara menjabatkan tangannya, dengan raut wajah yang
sopan, ramah dan menebar senyum. Kemudian mereka berinteraksi dengan saling
menyampaikan informasi dan berbagi pengalaman sesuai apa yang telah mereka
ketahui dan juga melakukan suatau ikrar (perjanjian) supaya tidak terjadi
kesalah pahaman satu sama lain.
Interaksi yang dilkukan oleh orang jawa dengan orang Madura, ketika
terjadi suatu itu interaksi antar budaya seperti budaya Madura dengan budaya
jawa lebih mudah jika orang Madura dan orang jawa dalam melakukan interaksi itu
sudah saling mengerti bahasanya satu sama lain. Namun jika diantara keduanya
tersebut tidak ada yang mengerti bahasa tsb, maka interaksi yang seperti itu
sangat sulit, selain harus saling memahami bahasa masing-masing juga harus
mengetahui bagaimana nada/intonasi ketika orang Madura / orang jawa berbicara,
karena jika tidak mengerti bisa jadi terjadi suatu kesalah pahaman dalam
mengartikan perkataan yang sudah di ucapkan, misalnya orang Madura ketika
berbicara/berinteraksi yang identik dengan nada/intonasi yang tinggi, keras,
kasar sehingga terlihat/ terdengar seperti orang yang lagi marah-marah, padahal
kenyataannya tidak seperti yang mereka kira, beda dengan orang jawa ketika
berbicara dengan bahasa yang lembut, dan dengan nada rendah, namun tidak semua
orang jawa berbahasa yang lembut dan nada yang rendah tapi juga ada yang
bahasanya seperti bahasa orang Madura yang identik dengan dengan bahasa yang
kasar begitu juga dengan orang Madura tidak semua orang Madura berbahasa kasar
dan benada tinggi namun juga ada yang berbahasa lemah lembut dan bernada rendah
seperti halnya orang jawa,.
Interaksi antara orang Madura dengan orang jawa hampir sama ketika
orang jawa dengan orang jawa dan orang Madura dengan orang Madura sendiri,
hanya saja yang membedakan itu adalah bahasanya, interaksi sosial yang terjadi
antara masyarakat Madura dengan jawa paling cepat terjadinya interaksi tersebut
biasanya terjadi dalam bergaul, keramaian di pasar-pasar dan di sekolah dan
proses interaksi tersebut harus melibatkan kedua belah pihak. Dan dalam
interaksi tersebut terjadi proses salam-salaman, pertentangan, tolong menolong
dll.
Cara bersalaman antara Madura-jawa ialah sama seperti orang
jawa-jawa dan Madura-madura. Ialah dengan cara mengulurkan tangannya, jika anak
kepada orang tua maka anaknya sungkem kepada orang tuanya, jika seumuran maka
hanya dengan mengulurkan tangan, jika dengan lawan jenis cukup bentuk rasa
hormat dengan cara mengangkat sedikit kedua tangannya tanpa menyentuh tangan
lawan jenis. Namun juga ada dengan cara cipika-cipiki, dan itu rata-rata
terjadi pada orang-orang kota seperti Surabaya.
Dalam melayani pelanggan, ketika yang menjadi pedagang adalah orang
Madura dan yang menjadi pelanggan adalah orang jawa maka sikap orang Madura
sebagai pedagangnya dalam melayani orang jawa yang statusnya sebagai pelanggan
mereka berprilaku sopan, menghormati meskipun pelanggan yang mereka layani itu
terlihat cuek dan kurang sopan namun juga ada yang tidak suka ketika melayani pelanggan yang kurang sopan,
misalnya yang terjadi di warung bebek atau warkop, ada pelanggan yang ingin
memesan makanan ataupun minuman cara yang mereka gunakan dalam memesan itu
dengan cara melambaikan tangannya dari jauh dan suara yang keras tanpa
menghampiri penjual secara langsung dalam memesan, dan cara pemesanan yang
seperti itu adalah cara yang tidak sopan dan penjual tidak suka dengan cara
yang seperti itu dan sipenjual merasa kurang di hargai sehingga terkadang si
penjual tidak merespon pesanan dari pelanggan yang seperti itu.
Proses negosiasi dalam berdagang, antara orang jawa dengan orang
Madura, ternyata bila orang Madura bertemu dengan pelanggan Madura juga maka
proses negosiasinya dipermudah dan mudah di berikan dengan harga murah, namun
jika bertemu dengan budaya asing proses negosiasinya tidak akan dipersulit
namun disesuaikan dengan harga yang sudah ditetapkan untuk mendapat keuntungan
yang lebih. Jika pedagang dari jawa bertemu dengan pelanggan Madura proses
negosiasinya sama dengan ketikan melayani pelanggan dari jawa.
Cara berpakaian ketika orang Madura tinggal di Surabaya rata-rata
sudah hampir seperti cara berpakaiannya orang Surabaya, misalnya pakaian yang
ketat-ketat, celana pensil dan bahkan juga ada yang memakai hotpant (celana
pendek) terutama bagi para remaja. Dan ternyata alasan mereka berpenampilan
seperti itu setiap individu berbeda, ada yang berasalan khususnya yang bagi
yang kerja di mol-mol alasannya karena memang sudah aturannya dan harus
berpenampilan meanarik seperti dengan membuka aurat (hotpen), ada juga yang
mereka sebagai pedagang kaki lima/ warung-warung nasi alasannya supaya ketika
ingin melayani pelanggan mereka tidak terlalu ribet, lebih simpel dan nyaman bila
tidak memakai pakaian yang logger-longgar dan tanpa hijab, meskipun sebenarnya
mereka menilai bahwa memakai hijab lebih bagus dan lebih anggun. Dan hampir
semua warga Madura yang sudah lama tinggal di Surabaya sudah tidak menggunakan
sesuai dengan budaya mereka sendiri, namun juga ada yang masih memakai dan
menggunakan seperti budaya mereka yang sebenarnya, misalnya masih berpenampilan
menutup aurat meskipun ada yang tidak memakai kerudung, dan menggunakan pakaian
yang longgar/ tidak terlalu ketat, dan ada juga yang masih sangat kental dengan
budaya mereka sendiri yaitu memakai sarung dan kebayak.
Pendidikan lebih penting dari pada pekerjaan terutama masalah ilmu
agama, “ujar orang Madura”, dan pendapat mereka di Madura lebih murah biaya
pendidikannya dari pada di Surabaya, namun rata-rata orang Madura hanya sampai
pada jenjang pendidikan SMA, tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, alasannya
karena biayanya tidak memadahi, terutama yang hidup di pelosok yang jarang ada
sekolahan, namun juga ada yang melanjutkan
keperguruan tinggi tapi itu sangat minim. Dan mereka juga ingin menyekolahkan
anaknya di sekolahan yang kualitasnya bagus bahkan sekolah international, tapi
itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kaya misalnya para pengusaha dan
pejabat. Beda dengan orang jawa yang hampir keseluruhan dapat melanjutkan
sampai keperguruan tinggi.
Adapun mereka warga Madura yang kuliah sambil menjadi supir angkot,
namun mereka menjadi supir angkot bukan karena minat tapi karena hobby, juga
tujuannya menjadi supir angkot hanya untuk sampingan dan membantu beban orang
tuanya dalam membiayai semua anak-anaknya yang ketepatan mempunyai banyak
saudara yang masih ada di bangku sekolah bahkan kuliah. Karena hobby menjadi
seorang supir ia sudah bisa membeli mobil sendiri sehingga ia lebih mudah dalam
membantu orang tuanya dan membiayai kuliahnya dengan hasil susah payahnya
sendiri.
Kekhasan dan keunikan yang dimiliki oleh orang Madura adalah bahasa
yang gheoghe, keindahan alam (estetis), dan juga agamis. Dan selain itu juga terdapat
tradisi seperti kerapan sapi, kerapan kuda juga memiliki makanan has salat
satunya ialah soto Madura, dan sate Madura. Yang makanannya itu hampir semuanya
rasanya asin dan pedas.
Ketika merayakan sebuah perayaan yang besar misalnya hari raya,
bila orang Madura yang berdagang dan
tinggal di jawa maka mereka akan menutup warung/ toko sebelum hari hari
rayanya yaitu di tutup pada hari ke 28 nya, kemudian pulang kampung pada hari
itu juga namun jika tempatnya sama-sama maduranya maka di tutup pas hari “H”
nya. Begitupun dengan orang jawa. Namun jika orang china bila hari raya Islam
tetap di buka dan bahkan ketika hari raya pengunjungnya lebih banyak dari pada
hari-hari biasanya. Kecuali hari raya china sendiri seperti hari natal maka
tokonya akan di tutup.
Dan dalam hari raya Islam bila di masayarakat Madura lebarannya lebih
ramai di hari raya ketupat dan hari raya kuban (idul adha) dibanding dengan
hari raya idul fitrih sendiri beda dengan masyarakat jawa. Dan waktu hari raya
tersebut di Madura juga ada kegiatan silaturrahim kepada keluarga dan para
tetangga dan itu dilakukan seharian penuh pada hari raya itu juga namun juga
ada yang melanjutakan esok harinya bahkan samapai 7 hari masi tetap dilakukan
silaturrahmi. bagi-bagi ampua namun jika ampau yang di bagi-bagikan oleh orang
Madura itu hanya kepada anak-anak kecil saja, sedangkan jika orang jawa
membagikan ampaunya kepada anak bungsu.
Budaya Madura dan budaya jawa menganggap budaya mereka lebih tinggi
dari budaya lain misalnya di bidang agama, mereka lebih fanatic kepada agama
mereka dari pada budaya lain. Mereka juga mempunyai rasa empati.
Simbol-simbol yang ada dalam budaya jawa ialah seperti sedekah bumi
yang bertujuan untuk mensyukuri nikmat yang telah di berikan oleh ALLAH SWT.
Dan itu biasanya dilakukan setelah panen dengan mengumpulkan semua warga desa
setempat dengan membawa makanan yang dikumpulkan menjadi satu dan itu terjadi
di lamongan juga tuban, namun disetiap desa ada yang berbeda caranya yaitu
tidak mengadakan sedekah bumi seperti desa tersebut, ada juga yang dilakukan
dengan cara mojok seperti melakukan tasyakuran tersebut dilakukan di tengah
sawah. Dalam budaya jawa juga terdapat simbol seperi “panda walima” (wayang),
yang di lakukan pada acara-acara tertentu seperti ruah desa yang dilkukan oleh
sesepuh desa juga warga desa setempat dan itu juga biasa dilakukan setelah
panen terkadang juga di adakan ketika ada acara hajatan atau pernikahan.
Dari simbol-simbol tersebut juga ada simbol-simbol seperti ketika
orang jawa bertemu dengan orang yang mereka kenal maka mereka biasanya menyapa
dengan senyum, atau kata “Monggo” juga ada yang menyapa dengan mengucap salam
namun itu sangat jarang sekali, biasanya sapaan seperti mengucap salam itu
hanya dilakukan oleh para kiyai.
Sedangkan simbol budaya Madura ialah seperti celurit dan adalah
salah satu simbol dari carok, dan carok sendiri adalah sebagai simbol harga
diri masyarakat Madura, selain itu juga ada kerapan sapi, kerapan sapi bukan
hanya sebagai tradisi masyarakat Madura juga sebagai simbol dan suatu
kebanggaan yang dapat mengangkat martabat budaya Madura. Kerapan sapi tersebut
adalah simbol pesta rakyat budaya Madura yang biasanya perayaan tersebut
dilaksanakan setiap tahun.
Selain itu juga terdapat simbol ketika orang Madura bertemu dengan
orang yang mereka kenal, hampir sama dengan orang jawa yaitu menyapa dengan
senyuman, mengucap salam “assalamu’alaikam, dan ucapan salam biasanya hanya
dilukan oleh ustadz/ustadzah, kiyai/ibu nyai, murid kepada guru, juga dengan
kata “Hei” dll.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar